Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2014

Cerpen " Aku Bukan Dia", Medan Bisnis Minggu, 9 November 2014

Udah lama bingit nggak berkunjung ke rumah yang satu ini. Padahal udah banyak yang mau dipost. Oke, ada penghuni baru lagi yang akan dipajang di sini. Selamat menikmati salah satu cerpenku yang dimuat Medan Bisnis edisi Minggu, 9 November 2014.

Aku Bukan Dia

Ayu Ira Kurnia Marpaung



    Puncak kesabaranku sudah di ubun-ubun. Kalian tahu? Rasanya mereka ingin menyembur keluar. Lalu seenak jidatnya menghantam setiap tembok yang menghalanginya. Aku bukan lesbi! Aku cewek normal yang menyukai lelaki. Tapi kenapa Tuhan ciptakan makhluk seperti dia? Aku muak! Aku benci dengan semua ini! Aku ingin menyayat pipinya. Biar dia tahu rasa perih setiap mendengar ucapnnya “aku cinta kamu”. Lalu kujadikan sushi untuk santapan malamku. Agar dia merasakan nikmatnya ejekan orang untuk diriku. Argghh… Aku jijik! Meski ribuan orang bilang”Lesbi bukan pilihan, mungkin karena kurang kasih sayang” aku tak peduli. Memangnya siapa yang akan peduli perasaanku yang terus tersiksa seperti ini. Mereka? Tidak!

    Meski matahari tak begitu garang siang ini, aku merasakan dadaku sesak. Ini bukan sehari atau dua hari. Ini sudah lewat berbulan-bulan aku menyimpan semua rasa kesal. Diam dan diam. Hanya itu yang sampai detik ini kulakukan. Pernah suatu hari ingin mengumpatnya dengan kata-kata kasar. Hanya saja aku masih punya akal pikiran. Dia lebih tua usianya dibandingkanku. Lalu, dengan gampangnya kusimpan amarah itu dalam-dalam. Tak peduli betapa sesaknya dadaku saat itu.

    Semua mata memandangku dengan tatapan aneh. Mereka tercenggang heran mendengar setiap kata demi kata yang terlontar dari mulutku. Aku bisa merasakan itu semua. Karena ini untuk pertama kalinya aku menyembur bak seekor naga yang kelaparan. Aku menghujatnya, memakinya, mengumpatnya, bahkan aku mengeluarkan kata-kata yang aku sendiri benci.

    “Dasar cewek lesbi! Aku masih normal. Aku bukan cewek yang bisa kau jadikan pemuas nafsumu. Cewek gila!!!” Umpatku geram. Terlihat jelas urat leher karena amarah yang menghantamku. Gelas yang ditangan kuhempaskan ke lantai.

Prangg!!!

    Dia menatapku tajam. Mungkin dia sedang melihat iblis dalam diriku. Tak kugubris tatapannya. Aku sudah tak tahan. Dadaku terlalu sesak untuk menyimpan semua kesabaranku. Dan ini yang kutunggu-tunggu. Marah.

    “Kau…”

    “Apaa?!”

    “Siapa yang mengajari kau ngomong seperti ini?” tanyanya penuh heran. Matanya masih menatapku lekat, tak ubahnya macan yang siap memangsa musuhnya.

    “Apa pedulimu?! Tanpa ada yang mengajari aku tahu apa yang harus kulakukan. Kau pikir aku anak kecil. Dengan barang-barang mahal yang kau beri, terus aku akan menukarnya dengan diriku. Seharusnya kau bercermin dan malu dengan dirimu. Kalau kau menginginkan sayang, cari sana lelaki yang bisa menerimamu. Bukan dengan perempuan sepertiku. Mulai saat ini jauhi aku. Aku nggak mau ketularan lesbi sepertimu,” jawabku kasar.

    Usai semua kutumpahkan kekesalanku. Aku menyeret kakiku keluar dari ruangan tempatku bekerja. Tak kuhiraukan atasan yang memanggilku. Aku muak melihat tampang polosnya yang menyimpan semua rahasia hati. Bodohnya aku terlalu percaya akan semua kebaikan yang selama ini terus membanjiriku. Kenapa aku gampang banget percaya kata-kata manisnya? Ternyata semuanya ada harganya. Dan itu aku!

*
    “Amarahmu udah pulih?”

    Aku masih diam. Napasku memburu. Dua botol minuman sudah habis kutenggak tanpa sisa setetes pun. Emosi tadi menguras dahaga. Selepas keluarnya aku dari tempat kerja, aku memutuskan pergi ke kantin. Menurutku di sana tempat yang paling cocok untukku berdamai dengan hati. Unrtungnya ada Ira, teman kerja yang baru tiga bulan akrab denganku.

    “Rus, aku tahu apa yang kau rasakan sekarang. Aku tahu rasanya gimana dicintai dengan sesama jenis. Tapi, bukan berarti kau berhenti bekerja, bukan?” Ira berusaha menenangkanku.

    “Lagian kau mengenalnya lebih lama dibanding denganku. Aku tahu pasti kau lebih memahaminya. Apa kau yakin dengan keputusanmu barusan?” lanjut Ira.

    “Entahlah, Ra. Aku capek. Aku hanya ingin kerja, nggak lebih. Tapi selalu saja dia membuatku kalap dan merasa jengah. Aku muak dan ingin muntah melihat kelakuannya. Bodohnya, aku percaya dan polos banget dengan semua kebaikannya selama ini. Aku nggak habis pikir dengan cara gilanya menyukaiku.”

    Ira mengelus lembut punggungku. “Rus, kau udah kenal lama dengannya. Seharusnya kau bisa menempatkan dia di hatimu. Dia hanya butuh kasih sayang. Nggak lebih, Rus.”

    “Jadi maksudnya, kau menyuruhku berhubungan dengannya? Gila kamu, Ra! Aku pikir kau akan memberiku solusi yang lebih baik untuk masalah ini. Nyatanya kau sama sekali nggak pernah ngerti tentang aku. Kau nggak beda jauh dengannya, Ra,” emosiku kembali mengalir ke seluruh nadi.

    “Rus, maksudnya…”

    “Cukup, Ra! Sebaiknya kau jauh-jauh dariku. Aku nggak mau kepalaku pecah mendengar omonganmu yang nggak jelas. Satu hal lagi! Jangan pernah kau samakan aku dengan dia, karena aku bukan dia! Camkan itu,” usirku cepat.

    Ira memandang kecut ke arahku. Mungkin dia sakit hati dengan ucapanku barusan. Peduli setan. Yang penting aku ingin menjauhi dari orang-orang yang berjiwa gila.

*
    Aku membekep mulut rapat-rapat. Takut kalau mereka sampai mendengar suaraku. Ini di luar dugaanku. Bahkan aku tak pernah berpikir sejauh ini. Rasanya aku sedang bermimpi di siang bolong. Apa ini? Mereka begitu sangat menikmatinya. Aku bisa melihatnya dari kejauhan ini. O my god, tolong bangunkan aku biar mimpi buruk ini berakhir, pekikku dalam hati.

    Aku berjinjit pelan mendekati kamar kost. Pintunya sedikit terbuka. Aku ingin menajamkan indera pendengaran dan pengelihatanku.

    “Sayang, aku mencintaimu setulus aku mencintai diriku. Aku janji nggak akan menduakan cintamu atau bermain api di belakangmu.”

    “Janji, ya. Aku juga nggak akan membiarkan satu orangpun memilikimu kecuali aku. Jangan pernah coba-coba untuk menyakitiku. Kamu akan tahu sendiri akibatnya.”

    Perutku mual mendengar ocehan gila mereka. Sejak kapan ini? Apa aku harus tutup mulut dan membiarkan ini lebih jauh lagi? Aku lebih baik amnesia. Kenapa aku yang ada dalam bagian dari mereka bisa-bisanya tak menyadari. Kepalaku mulai tak bersahabat. Adegan setiap adegan terekam jelas di mataku. Raya dan Ira bercumbu mesra. Bahkan aku tak pernah menduga jika Ira memiliki jiwa lesbi seperti Raya.

  


Minggu, 13 April 2014

Majalah HAI

Alhamdulillah, sempat mikir nggak bakal bisa naklukkan majalah satu ini. Tapi..... Makasih buat kalain yang selalu ada saat aku jatuh.

Cerpen "Gue (Bukan) Playboy" terbit di Majalah HAI edisi 10/2014/XXXVIII

Gue (Bukan) PlayboyOleh: Ayu Ira KurniaMarpaung

"Pokoknya aku nggak sukaliat kamu deket-deket sama Vivie. Emang dia siapanya kamu sih, bela-belainbantu dia beresin gudang," cerocos Eki manyun.

"Kan bantu temen dapat pahala,Beb. Jangan cemburu gitu dong. Ntar nggak embem lagi tuh pipinya," rayuBana manja.

Eki cuma balas cemberut. Hatinyalagi dibakar api cemburu. Gimana nggak dongkol kalo liat pacar lagimesra-mesraan bareng musuh bebuyutan. Bana yang duduk disebelahnya cuma bisabengong. Huh! Bakalan jadi Bang Toyibnih, rutuknya. Kalo bukan Akbar yang membeberkan semuanya, nggak bakalperang dunia nih. Dasar Akbar ember!omel Bana kesal.

*

"Kalo udah punya satu cewek,jangan main tikung ke cewek lain, Bro. Tahu sendiri kalo si Eki cemburuan. Losendiri kenapa doyan sih sama dia. Udah gendut, item, kribo lagi," selaAkbar di kantin.

"Namanya juga cinta. Lagiangue juga nggak cakep-cakep amat. Mana mungkin berani suka sama cewek bening.Bisa-bisa gue diketawain. Lagian Eki itu tipe gue banget, anaknya asik dannggak bosenin," balas Bana sewot. 

Diseruputnya sampai kinclong es cendolyang ada dihadapannya. Rasa hausnya belum juga terobati perihal Eki yang masihmogok ngomong dengannya. Niat awal mau sidang Akbar perihal masalah kemarendipending karena disogok es cendol.

"Jangan nyerah dulu, Bro.Buktinya banyak cewek-cewek yang deketen lo. Vivie, Ita, Anggrek, Widia, itusemua cewek populer yang ngarep bisa jadi gebetan lo. Lonya aja pura-pura begoatau emang beneran bloon," Akbar menambahin omongannya.

Bana cuma bisa bertopang dagu.Pikirannya masih di satu titik, Eki. Biarpun orang bilang dia cewek aneh, tapiada satu kelebihan yang nggak dimiliki cewek lain, kepintarannya. Cowokcungkring ini mengaku bisa klepek-klepek karena habis diajarin Matematika danbesoknya langsung dapat nilai B plus. Dari situ Bana mulai simpati sama Eki.Cinta emang buta ya. Hihihii

“Biar kata orang cinta itu buta,bukan berarti lo harus buta milih calon pacar. Kalo gue sih amit-amit gitupacaran sama Eki. Biar tampang pas-pasan, gue masih milih-milih yang mau guejadiin pacar.” Mulut Akbar penuh makanan, sampai omongannya nggak jelas gitu.Makanannya berhambur ke sana-sini. Membuat Bana makin dongkol.

“Badan segede itu mau milih-milihpacar. Mimpi itu jangan ketinggian, kalo jatuh badan lo bisa kempes,” balasBana sewot.

Akbar cuma cengengesan. Belnyaring memekakkan telinga. Memaksa Bana dan Akbar meninggalkan kantin sebelumPak Lonyenk, guru horor itu masuk duluan. Bisa bener-bener hidup di nerakadibuatnya seharian penuh.

*
Ini udah seminggu dari Banamenyetujui untuk menarik perhatian cewek-cewek yang jadi target mereka. Banaberhasil membuat empat cewek populer nempel terus di sampingnya. Vivie selalusaja mengantarkan sarapan roti plus slai stoberi, Ita memberikan dengan sukarelawanuang sakunya setiap Bana kehabisan ongkos pulang naik angkot.  Anggrek selalu datang tepat pada waktunya,ketika Bana kesulitan mengerjakan pe-er Bahasa Indonesia menulis puisi. DanWidia, cewek kurus tinggi langsing ini tampak ikhlas memberikan senyuman mahalyang jarang diberikan kepada orang lain.

Sementara, Eki diwanti-wanti biarnggak liat pemandangan panas ini. Bisa kacau urusan percintaan. Padahal Banakasihan banget kalo Eki sampai diduain hanya karena fisik. Untungnya, sejakkejadian itu Eki jarang kelihatan. Mungkin lagi nyiapin bekal buat ikutanlomba. Maklum, jelek-jelek begitu Eki sering dapat prestasi dan mengharumkannama sekolah. Tapi bukan bunga kantil yaa, sereeemmm. Hiihiihii…

*

"Gimana Bro? Lo pilih yangmana untuk dijadikan pacar simpanan lo? Lumayan ‘kan bisa buat hari lo lebihberwarna. Biar nggak kusam terus," ujar Akbar selepas dari perpustakaan.

Bana cuma diam. Matanyamenerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya. Yang pasti cuma dia dan Tuhanyang tahu.

"Kok diam aja sih? Kenapa? Nggakpede? Emang sih, kalo diliat dari tampang lo nggak keren-keren banget, bukanketua OSIS, bukan kapten basket, nggak cool,tapi banyak cewek yang kepincut. Heran gue jadinya," Akbar menggarukkepalanya yang tak gatal.

"Tapi gue baik, Bro. Senangmembantu mereka sampai selesai tanpa pamrih," sahutnya asal.

"Nah, tunggu apa lagi.Pacarin aja salah satu dari mereka, kalo perlu semuannya," timpal Akbarsemangat.
Hening beberapa menit.

“Kok diam aja sih? Lo bengong apakesambet? Mikir kayak gini aja, udah mirip ngadapin ulangan Fisika,” sambungAkbar kesal.

 "Sebenarnya gue mau banget. Tapi guenggak bisa. Gue udah netepin hati gue buat Eki. Nggak peduli orang bilang apatentang dia, yang penting hatinya. Satu lagi, mungkin cewek yang kepincut samague karena gue bukan cowok playboy,"tandasnya akhirnya, membuat Akbar mati kutu. Percuma dong gue manas-manasin lo tiap hari. Gatot deh, alias gagaltotal,rutuk Akbar kecewa.

Rabu, 04 Desember 2013

Cerpen "Separuh Aku, Dirimu" Medan Bisnis

Alhamdulillah, sempat melupakan kalau pernah kirim ini cerpen. Cerpen yang kukirim 23 Oktober 2013 lalu, akhirnya dimuat minggu lalu. Senang sudah pasti. Benar kata Om DAN "Tulis, kirim, lupakan" itu akan membuatmu lebih semangat menulis dari pada menunggu. Cerpen "Separuh Aku, Dirimu" dimuat di Medan Bisnis edisi Minggu, 1 Desember 2013 rubrik Art & Culture.




Separuh Aku, Dirimu
Oleh : Ayu Ira Kurnia Marpaung

            “Kenapa masih di sini? Apa kau tak bosan hanya meratapi dirimu sendiri? Bukankah dari dulu sudah kukatakan, jangan mencintai anak sebrang dan miskin itu?”

            Aku melirik sinis arah suara yang baru saja membentakku. Ingin rasanya aku mendorong tubuhnya hingga jatuh dan tenggelam untuk selamanya. Kebencianku benar-benar sudah di atas ubun-ubun dan siap untuk diluapkan.

            “Dengar! Jika kau terus seperti ini. Aku tak segan mempercepat untuk melamarmu! Jangan pernah ingat lelaki pecundang seperti dia. Camkan itu!” Ancamnya membuatku semakin kesal.

            “Bukan urusanmu mengatur hidupku! Bukankah dirimu lebih pecundang dibanding dirinya? Kau hanya bisa mengandalkan harta dan harta. Bersembunyi di balik ketiak Ibumu!” Umpatku kesal.

            “Kau…,” suaranya tercekat dan hampir saja tanggannya melayang ke pipiku.

            “Apa?! Kau mau menamparku dan mengadu pada Ibuku? Silakan! Kau sama saja seperti anak kecil yang merengek meminta permen agar diam. Dengar ya, kau tak akan bisa memperlakukanku seperti wanitamu yang sudah-sudah,” aku menghentak geram melihat tampang bancinya.

Aku melongos pergi meninggalkannya menatap heran padaku. Tak kupedulikan panggilannya yang mencoba untuk merayu atau membujukku untuk meredam amarah yang sudah tak bisa kuelakkan lagi.

*

            “Aku akan datang melamarmu. Tapi tidak saat ini. Aku harus bekerja untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup.”

            “Benarkah…” Ucapku berkaca-kaca.

            “Iya, Sayang. Aku tak mau Ibumu terus memojokkanku karena aku anak sebrang dan miskin. Ya, walau kebanyakan anak-anak di sana brutal dan sering buat onar. Tapi tidak untukku. Percayalah, aku akan berusaha meluluhkan hati Ibumu,” ucapmu lembut.

            Aku menghambur ke pelukanmu. Merasakan setiap getaran cinta yang semakin membentuk gelombang dasyat. Indah. Kata yang tidak henti-hentinya kuucapkan saat bersamamu. Menikmati senja, duduk di atas jembatan sambil menikmati deburan angin. Ah, ingin aku melakukan ini setiap saat. Menghirup aroma parfum bajumu dan merasakan detak jantungmu yang berdetak hebat.

*

            “Apa yang kau lakukan terhadapnya? Ia baik dan tulus mencintaimu. Tapi kau malah mengatainya pecundang. Ingat, dia sudah banyak membantu kita. Cobalah untuk bisa menerimanya. Jangan kunci hatimu untuk dia,” suara Ibu menggema dikeheningan malam.

            “Ibu, aku nggak bisa menerimanya. Apa Ibu rela melihat aku menikah tanpa rasa cinta? Apa Ibu sanggup melihatku menderita dalam ikatan suci? Dia tak sebaik yang Ibu pikirkan.” Aku mencoba membujuk Ibu agar berhenti memuji lelaki yang dianggapnya baik dan pemurah itu.

            “Diam!” Ibu membentakku, dan ini untuk pertama kalinya dalam hidupku. “Cinta dan cinta saja yang kau katakan. Setelah menikah kalian juga bisa saling mencintai. Dengar! Ibu tak mau lagi mendengar alasanmu untuk menolak niat baiknya melamar kau!” Masih dengan luapan amarahnya, Ibu membanting pintu kamarku dengan keras. Ia tak mempedulikan semua perasaanku yang diperjualbelikan oleh harta lelaki bajingan itu.

            “Ayah, andai saja kau masih ada. Pasti ada tempatku berlindung dan mengadu padamu. Tuhan, lancangkah hamba-Mu ini meminta kemurahan-Mu membukakan pintu hati Ibuku yang dibutakan oleh keadaan?” aku menahan tangis membenamkan kepalaku di bantal. Malam semakin larut dengan kesunyian yang menghiasi langit. Tanpa bintang dan sinar bulan yang mendampinginya. Aku terlelap dalam tidur dengan membawa beban hidup yang terlalu rumit.

*

            “Aku akan datang menemui Ibumu. Aku akan yakinkan Ibumu kalau orang sebrang tak semuanya bejat, dan aku akan beritahu Ibumu kalau diriku sudah bekerja untuk bisa memberimu nafkah kelak,” ucapmu lembut.

            Aku hanya menatapmu. Wajahmu begitu tenang. Dengan sigap kau tarik tanganku dan menyuruhku untuk menaiki sepeda motor. Hati-hati sekali kau mengendarainya.

            Sepanjang jembatan aku dan kau terus membisu. Tiba-tiba saja perasaan gelisah menyelinap dalam pikiranku. Semacam akan ada peristiwa yang akan menimpa kita. Ah, mungkin hanya perasaanku saja, gumanku lirih.

            Naas. Saat di ujung jembatan, sebuah truk pengangkut pasir datang tiba-tiba. Kontak kau gugup dan lepas kendali.

BBRRRAAAKK!!

            Tabrakan tidak bisa terhindar. Samar-samar kulihat kau meringis menahan sakit. Darah mengucur di dahi dan bagian kepalamu. Kurasakan sakit yang teramat pada tanganku yang terbentur keras pada sepeda motormu. Masih sempat kulihat banyak orang yang mengerumi kita dan mencoba membawa ke rumah sakit. Kepalaku semakin lama semakin berat dan pemandangan gelap seketika.

*

            “Sebulan lagi aku akan datang dan melamarmu. Ibumu sudah setuju. Kau tak bisa mengelak lagi,” ucapnya dengan senyum kemenangan. Aku diam membisu. Apa yang bisa kuperbuat sekarang. Ibu benar-benar menjualku dengan harta. Aku duduk lemas di sofa. Memandangi foto sepasang kekasih yang begitu mesra.

            “Tuhan tak adil. Setelah Ayah kau ambil dariku, kini orang yang akan membangun istana dalam puriku. Apa aku begitu hina hingga tak pantas mendapatkan kebahagian di dunia ini?” Aku terus menggerutu dengan perasaanku sendiri. Bajingan itu kini bisa tersenyum lepas melihat kemenangan di depan matanya.

*

            Kecelakaan itu harus membuatku kehilangan dirimu selamanya. Nyawamu tidak dapat tertolong lagi. Sedangkan aku hanya mengalami luka ringan saja. Kepergianmu bukan saja membuatku seperti kejatuhan reruntuhan langit, tapi hidupku kehilangan separuh nyawa.

            Kini, birunya langit tidak seindah dulu. Langit melukis mendung yang teramat. Hingga aku sendiri tidak mampu untuk menghapusnya.

Tuhan, haruskah cintaku berakhir tragis?! Kenapa Kau ambil orang yang kusayang saat hari bahagia itu akan datang menghampiriku? Aku lelah terus menerus disakiti oleh cinta. Tolong kembalikan dia padaku, rintihku pilu.

*

Penantian itu tiba.

            “Maafkan, Ibu. Ternyata ucapanmu benar adanya. Dia tak sebaik penampilannya. Maafkan Ibu yang sudah dibutakan oleh keadaan,” Ibu menangis memelukku dengan kasih bukan dengan kebencian yang selama ini kurasakan. Kubalas pelukannya dengan senyum bahagia. Dadaku tak sesak lagi saat memluknya. Kini cinta yang kupertanyakan kepada-Nya telah hadir. Cinta itu ada dipelukanku.

            “Syukurlah, Ibu sudah mengetahuinya. Ini alasanku kenapa selalu mengabaikan semua perasaannya padaku, Bu. Aku harap Ibu tak lagi memaksaku untuk menikah denganya. Apapun alasannya,” pintaku polos. Ibu mencium keningku. Ia menganggukkan kepala.

            Sebelum waktu yang dijanjikan tiba. Rudi, si pecundang tertangkap basah sedang mengedar narkoba dan sejenisnya. Akhirnya ia harus mempertanggungjawabkan semua kelakuannya dalam balik jeruji besi.

            Lega sudah semua perasaanku yang dulu terhimpit palu yang siap menghantamku. Kupandangin lagi jembatan itu, ya jembatan yang menghubungkan cintaku denganmu.

            “Rangga, perasaan ini tak akan pernah berubah. Aku percaya di surga kau membangun istana kita yang tertunda. Rangga, rasa ini masih seperti dulu dan selamanya akan seperti dulu. Karena separuh aku, dirimu.”

* END *


-           

Jumat, 16 Agustus 2013

Lebaran Tanpa Ayah - Event LeutikaPrio


Lebaran Tanpa Ayah

Malam itu telah datang
Membawa sejuta senyum dari surgaNya
Aku terlelap
Berharap jemari kekarmu meraihku

Airmata yang terus menghujam ketika hari kemenangan itu tiba. Aku merindukan sosoknya. Sosok yang ingin kutatap, kupeluk, bahkan aku ingin bermanja di atas pangkuannya, Ayah. Entah berapa kali lebaran, aku selalu bersama Ibu dan keluarga lainnya. Tak pernah kutemui Ayah di dalam kebahagian kami. Aku tersudut. Kadang aku merasa Allah tak adil dalam hidupku. Ah, lagi-lagi aku hanya remaja polos yang haus akan rasa sayang dari Ayah.

“Nak, kok malah melamun? Lihat tuh teman-temannya pada pergi takbiran,” teguran lembut Ibu membuyarkan lamunanku tentang Ayah. Ada panas yang menggantung di ujung kelopak mataku. Tidak! Aku tak ingin Ibu melihat kesedihanku.

“Bentar lagi, Bu. Lagian belum ada yang jemput kok,” sahutku berusaha tegar. Ya, hanya itu satu-satunya cara mengelabui Ibu.

Sepeninggal Ibu, aku melihat foto Ayah bersama Kakek. Benda hangat itu akhirnya keluar tanpa perintahku. Ayah, aku rindu kamu. Ya Allah, kutitipkan setetes rindu untuknya.
 
“Kalau belum pergi, sebaiknya zakat dulu. Nanti kamunya kelupaan,” suara Ibu di balik dapur mengingatkanku. Aku mengangguk meski Ibu tak melihatku.
Meski di luar masih hujan, kukeluarkan sepeda motor. Membawa bungkusan hitam yang berisi zakat. Tak peduli dingin yang terus menusuk tulangku, kuperlambat laju sepeda motor yang kubawa. Di depan rumah yang begitu sederhana, kumatikan sepeda motor. Mengetuk pelan pintu rumah tanpa alat penerangan seperti lainnya.

Hatiku terenyuh saat pemilik rumah membukakan pintunya. Aku melihat kebahagianku di sana. Keluarga lengkap. Ada Ayah, Ibu, anak-anak yang lucu. Ah, kapan aku seperti mereka? Kapan aku benar-benar memiliki sosok Ayah? Kapan aku…? Tak seharusnya aku selalu mempertanyakannya. Jawabannya sudah jelas di mataku. Aku tak akan bertemu dengannya, kecuali kematian mempertemukan kami.

“Masuk, Nak,” ucap perempuan setengah baya itu mengagetkanku.

Buru-buru kesembunyikan wajah iriku padanya. Bergegas membayar zakat, seperti apa yang kuniatkan tadi. Tanpa menunggu lama, aku pamit pulang. Aku takut perasaanku tak terkendali melihat kebahagian mereka.
Gerimis masih menikamku. Kuputar arah untuk menuju tempat yang kurasa paling nyaman untuk menyendiri.

Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil – hamd

Gema takbir di mana-mana. Aku tertunduk lesu. Tak kuhiraukan hiruk pikuknya kota yang mulai ramai dipadati kendaraan bermotor. Tak peduli gerimis, semuanya larut dalam kemenangan dalam sebulan Ramadhan, kecuali aku.

*

“Bu, aku minta maaf lahir batin. Jika selama ini aku selalu menyusahkan Ibu, buat Ibu marah dan kecewa. Maaf juga Bu, aku belum bisa beri kebahagian seperti yang Ibu berikan padaku. Di bulan Syawal ini, aku ingin Ibu memaafkan semua kesalahanku,” sungkemku seusai pulang shalat Id.

Kurasakan tubuh Ibu bergetar. Aku tahu, pasti Ibu menangis. Ibu pasti sedih. Semua anak-anaknya merantau dan tak ada yang kembali, kecuali aku. Tanpa kusadari, Ibu memelukku. Airmatanya membasahi jilbab yang kukenakan. Dadaku sesak. Maafkan aku Ibu, yang selalu mempertanyakan Ayah. Aku tahu, aku anak yang egois, ucapku dalam hati.

Ibu melepaskan pelukannya. Tak ada satu katapun yang terucap. Matanya mengisyaratkan kebahagian dan kesedihannya yang begitu dalam. Entah apa itu. Aku sendiri tak tahu. Ibu beranjak dari duduknya. Aku melangkah ke dapur. Di sana sudah tersaji lontong sayur khas lebaran, ketupat, kue lebaran, dan masih banyak lainnya.

Aku duduk di daun jendela kamar. Menatap lekat foto yang ada digenggaman tanganku. Ayah, lebaran ini masih sama. Sepi. Sampai kapan hatiku terus menolak kepergianmu. Aku belum ikhlas. Ayah, kapan lebaran ini terasa lengkap dengan hadirmu? Apa setiap lebaran aku hanya bisa melihat fotomu? Melihat kebisuan yang ada. Ayah, lebaran akan selalu sepi, meski beribu akan jutaan kebahagian ada di sini. Ayah, aku merindukanmu


 “Tulisan ini diikutkan dalam Tjerita Hari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio.”

Sabtu, 27 April 2013

Cerpen, "Sebuah Pengkhianatan" Terbit di Medan Bisnis, 24 Februari 2013

Akhirnya, ada juga cerpenku yang berhasil lolos di media satu ini. Media yang sudah lama ingin aku taklukkan. Apalagi kalau bukan Medan Bisnis. Cerpenku yang dimuat di edisi Minggu, 24 Februari 2013 di Rubrik Art and Culture..


Sabtu, 24 November 2012

Cerpenku di Harian Waspada, "Seputih Cinta Jingga", 25 November 2012

Rasanya Minggu ini aku benar-benar "beruntung". Benar yang diucapkan Om DAN "Tulis, kirim, lupakan, dan kirim (lagi)" akan membuat kita begitu semangat untuk tetap menulis dan menulis. Oke, hari ini Minggu,25 November 2012 kembali cerpenku "Seputih Cinta Jingga" mewarnai di Rubrik Cemerlang di Koran Waspada. Selamat menikmatinya. Buat yang sudah baca jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya. ^_^





Seputih Cinta Jingga
Oleh: Ayu Ira Kurnia Marpaung

            Aku masih berdiri di pantai. Menikmati hembusan angin yang bermain manja pada belaian rambutku. Deburan ombak masih berlomba untuk mencapai bibir pantai dengan adu cepat. Terlihat senja tersenyum dengan memperlihatkan jingganya pada cakrawala. “Aku merindukanmu,” desahku lirih. 

            Berkali-kali aku melempar batu kerikil ke laut sana. Tenggelam dan tidak kembali. Apa rasa ini seperti batu tadi? Datang menghiasi hari-hariku dan tenggelam oleh waktu yang memenjarakannya? Tuhan, kemana langkah ini harus mencarinya. Aku terlalu lelah untuk membiarkan cinta ini terurai pada tempat yang salah. Cukup sudah rasa sakit yang pernah merayap pada hati ini. 

            Aku terhempas pada pasir pantai. Membiarkan ombak membasahi tubuhku. Menatap senja yang akan segera datang untuk memberi obat penawar rindu. “Hujan, di mana kau? Apakah aku harus memanggilmu dengan mantra kerinduan?” desahku lirih.

            Aku bangkit dan memandang laut yang membentang. Merentangkan tanganku lebar-lebar. Membiarkan angin membawa semua resah yang bergelayut dalam pori-pori kehidupanku. 

*

            “Hai, apa yang kau lakukan?”

            Aku hanya menoleh sesaat,kemudian melanjutkan pandanganku pada rinai hujan yang masih setia menemaniku menikmati cappuccino. “Dasar, ganggu orang saja,” rutukku lirih.

            “Kau sedang apa?” Ia mengulang pertanyaannya hingga membuatku terusik. Kali ini aku mendesah panjang.

            “Apa pedulimu!”

          “Aku hanya penasaran saja. Sedari tadi aku memperhatikanmu hanya mengaduk-aduk gelasmu. Terus manyun ketika melihat luar hujan masih mengguyur kota ini,” katanya panjang lebar.

            “Aku paling benci hujan.” Jawaban yang menurutku sangat tepat. Tanpa seizinku dia menempati sofa kosong di sampingku. Seakan-akan dia orang yang sangat berarti saat itu.

            “Aku suka hujan. Kau tau?”

            “Dasar aneh! Untuk apa juga aku harus tahu. Itu nggak penting buat hidupku,” omelku dalam hati.

            “Kau harus tahu. Karena aku akan mengajakmu untuk menyukai hujan.” Dia seakan membaca pikiranku. Dasar bego,apa peduliku.

            “Hujan itu sangat indah. Kau bisa membaur bersama hujan jika kau merasa sendiri atau bersedih. Hujan itu menyejukkan, aromanya yang membuat kita merasa damai. Kau tahu, hujan juga memberikan keindahan yang sangat luar biasa.”

            Aku memandangnya heran. “Kau bilang hujan memberikan keindahan. Apa nggak sebaliknya? Hujan hanya bisa mengurungku berlama-lama dalam cafĂ© ini.”

            “Hei, kau salah. Hujan akan memberi pelangi. Itu keindahannya. Kau tau semua orang menyukainya.”

            “Oh, ya boleh aku mengetahui namamu?” tanyanya seolah tak menggubris kekesalanku.

            “Jingga.” Ucapku pendek.

*

            Pertemuan yang membuatku harus sering bertemu dengannya. Sosok misterius yang selalu hadir saat hujan membasahi bumi. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menyelimutiku. Antara perasaan senang, benci,bahkan deg degan.

            “Tuhan, perasaan apa ini? Aku benci lelaki yang menyukai hujan. Sangat.” Aku menggigit bibirku. Sudah terlalu sering aku tersakiti dengan lelaki yang menyukai hujan. Entahlah,seperti duri yang perlahan menyobek hatiku hingga terasa perih. Aku tak mengerti kesalahan apa yang telah kulakukan hingga aku seperti mendapatkan kutukan ini. 

            Bukan ingin menyalahkan takdir yang selalu mempertemukanku dengan lelaki penyuka hujan. Seperti kebetulan yang sudah direncanakan olehNya. Aku hanya bisa mengutuk dan mengutuk diri. Akankah hujan bisa kembali bersahabat denganku, Jingga? Pertanyaan bodoh yang selalu hadir dalam bayangan tidurku. 

*

            Hari ini aku lebih awal pulang dari sekolah. Maklum ada rapat guru. Aku memilih pergi ke pantai menghabiskan waktu senggangku. Ya, pantai adalah tempat favoritku untuk bisa membuat pikiranku lebih fresh. Selain melihat senja berjam-jam, aku juga suka laut yang biru. Menurutku laut dan senja dua hal yang sangat indah. Apalagi dengan balutan hujan yang saat ini selalu menghiasi hari-hariku.

            Hampir satu jam aku duduk di hamparan pasir. Menikmati jilatan ombak pada kaki telanjangku. Tanpa sengaja mataku merekam kejadian yang membuatku shock. Rangga bersama orang lain begitu mesranya mereka bergandengan tangan. Aku tergugu. Tanpa dikomando airmataku jatuh membasahi pipiku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki saat ini, kucoba menghampiri Rangga. 

            “Rangga,” panggilku lirih. Tanpa merasa bersalah dia menoleh dan menatapku datar dengan jawaban “ya”. 

“Siapa dia? Ada hubungan apa denganmu?” tanyaku terbata menahan amarah yang sudah bergejolak. 

            “Dia Sasha pacar baruku. Oh ya, aku belum mengenalkannya denganmu. Sasha sangat mengerti tentang aku dibanding dengan dirimu. Satu hal yang harus kamu ketahui, aku bukan cowok bodoh yang mau menemani kamu berjam-jam hanya untuk melihat senja bersama deburan laut.” Ucapan Rangga seperti palu yang menghancurkan cermin hatiku. Berantakan dan meninggalkan puzle yang tidak akan mungkin bisa disatukan kembali. 

            “Ja…di…” Aku kehabisan kata yang akan kuucapkan. Tanpa mempedulikanku yang terpaku, Rangga berlalu dari hadapanku dengan kemesraan baru yang diperlihatkannya. 

            “Rang, kamu tega melukis awan mendung di mataku. Kamu membuat hujan tak akan berhenti. Kamu pembohong, Rang…” Aku menangis tersendat-sendat. Rasanya aku ingin berteriak memanggil ombak untuk membawaku pergi.

            “Aaaaaa…” Jeritku histeris. Sorot mata misterius menatapku tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya. Aku tidak peduli. Yang kuinginkan saat ini adalah meluapkan semua kekesalanku pada cinta yang menggores luka.

            Kenapa Tuhan memberi aku cinta yang palsu? Tidak adakah lelaki yang mencintaiku seputih cintaku?

*

            “Jingga, kamu harus tau itu. Nggak semua lelaki yang menyukai hujan akan melukis tangis dalam hidupmu dan nggak selamanya penggila senja sepertimu akan memberikan warna indah juga untuk langit.”

            “Terus menurutmu aku harus membuka lagi perasaanku untuk orang yang sama. Membiarkan diriku disakiti dan terus disakiti.” Suaraku sedikit meninggi. Ini kesekian kalinya aku berdebat panjang dengan dirinya. 

            “Aku mencintaimu Jingga. Selamanya, aku ingin kau menjadi milikku selalu, utuh. Tanpa ada tangan yang berani mengusikmu…kecuali aku.”

            “Maksudmu…” Aku menyadari setiap kata demi kata yang diucapkannya. Apa aku harus mempercayainya? Kuakui ia selalu menemaniku saat aku merasa bego dengan diriku sendiri. Ia akan hadir jika aku sedang dipenjara oleh hujan. 

            “Aku sangat, sangat mencintaimu Jingga. Kuharap kau akan menggores jinggamu setelah hujan bukan pelangi yang diharapkan semua orang. Aku hanya ingin hujan menghiasi kebahagianmu, bukan kesedihanmu,” ucapmu meninggalkanku dalam diam. Ada rasa sakit saat dia pergi. Aku berharap dia akan menoleh dan berlari mendekapku. Tapi, dia terus saja melangkah menjauhiku.

*

            Sejak kejadian itu dia tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Aku merasa bersalah karena terus memojokkannya hanya karena masa laluku yang membuatku membenci hujan.

            “Hujan, kemana dirimu? Aku merindukanmu. Aku ingin kau di sampingku, mendekapku dalam dingin beku yang merasuki, dan memberi warna setelahnya.”