Puisi ini terbit di Harian Waspada. Padahal banyak puisi yang dikirim, mungkin hanya ini yang nyantol waktu nyampe. Hihii... Nggak ada masalah pelan-pelan lagi nulisnya. Selamat menikmati ^_^
Wanita Berpayung Gelisah
Hujan luruh bersamamu
Menikam luka berserak di jalanan
Lalu kupunggut dalam sepi
Agar dunia tahu, aku wanita jalan
Berpayung gelisah dalam tangis
Pagi mengering basah tadi malam
Selimutkan embun
Pun kau tertawa dalam laraku
Lihat! Aku wanita jalang mengutip rasa
Tanjungbalai, 2014
Mimpi akan membawamu pada impian. Jangan takut untuk bermimpi. Semoga blog ini benar-benar menginspirasi pembaca
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 November 2014
Jumat, 19 Juli 2013
Puisi Sederhana Terbit di Radar Seni
Alhamdulillah, Ramadhan ini ada puisi sederhana yang dimuat di Radar Seni edisi 14 Juli 2013.
Selamat membaca ^_^
Stt… Pertiwi Sedang Tidur
Ranting kejujuran telah patah dari dahan
meninggalkan bekas tanpa jejak
Daun kehidupan kering; terbawa angin
berhenti pada titik kejenuhan
Akar kian tua, tak mampu menopang tubuhnya
Langit menangis
Bumi merajuk
Stt… Pertiwi sedang tidur
Terlelap dalam buai nyanyian kosong
Lalu, biarkan tangantangan kotor merusak isinya
Bebaskan tikus lalulalang
Hening…
Tinggal mimpi tak lagi nyata
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Perempuan Senja dan Lelaki Hujan
Aroma hujan bangkitkan gairah laut
bergemuruh menantang biru ke peraduan
Karang menjerit malafal mantra
Hadirkan senja pada kesunyian
Aku meringkuk; perempuan senja
Mencium basah di ujung jingga
Kau; lelaki hujan
Ciptakan tujuh warna menutupiku
Adalah kita satu raga
Ketika kau pergi, aku datang menunggu
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Lantunan Doa Untuk Ayah
Pagi ini fajar lebih dulu mengecup embun
Tak lupa belaian angin menyapa dedaunan
Rumah-Mu masih terlihat hening dan sepi
Hanya sesekali terdengar kicau burung merdu hilir mudik
Perlahan lututku bersandar pada gundukan tanah merah
Tanpa sadar beningan kristal lahir dari kelopak mata
Bibir terasa kelu melantunkan baris tiap baris do’a
Mataku sayu dengan tatapan nanar
Kutatap lagi puisi yang tertulis
Untuk menyampaikan seutas rindu dan cinta
Dalam sajak tak bergema
Kulantunkan kembali do’a untukmu
Tanjung Balai, 29 Mei 2013
Tentang Hati
Kegoisan saat nafsu terlalu memburu
Mengalahkan logika ; berimbas cemburu
Menyerupai belati menuai luka
Adalah kelembutan saat tersentuh rasa cinta
Tenang ; memeluk hangat meski dingin membeku
Adalah globe makhluk Ilahi
Hitam putih perjalanan hidup
Misteri ketika mata tertutup
Tanjung Balai, 6 Juli 2013
Sepotong Rindu
Tak ubah empedu
Tak lengkang oleh waktu
Hadirkan sepotong rindu dalam pagi menjelma
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Ayu Ira Kurnia Marpaung nama lengkap dari penulis. Beberapa karyanya berupa artikel, puisi dan cerpen pernah dimuat di Tabloid Gaul, Medan Bisnis, Batak Pos, Harian Waspada, C-Magz, Majalah Kiss, Asahan Post, Majalah Liberty, dan Majalah Frasa Online.
Aktif di dunia Kepenulisan Online Cendol dan Cermat untuk Wilayahnya. Jika ingin menyapanya lebih dekat dapat Add akun facebooknya di Ayuslalu43@yahoo.co.id atau twitter @AyuIraKurnia1.
Untuk lihat lebih lanjut silakan klik linknya. :)
http://radarseni.com/2013/07/14/ayu-ira-kurnia-marpaung/
Selamat membaca ^_^
Stt… Pertiwi Sedang Tidur
Ranting kejujuran telah patah dari dahan
meninggalkan bekas tanpa jejak
Daun kehidupan kering; terbawa angin
berhenti pada titik kejenuhan
Akar kian tua, tak mampu menopang tubuhnya
Langit menangis
Bumi merajuk
Stt… Pertiwi sedang tidur
Terlelap dalam buai nyanyian kosong
Lalu, biarkan tangantangan kotor merusak isinya
Bebaskan tikus lalulalang
Hening…
Tinggal mimpi tak lagi nyata
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Perempuan Senja dan Lelaki Hujan
Aroma hujan bangkitkan gairah laut
bergemuruh menantang biru ke peraduan
Karang menjerit malafal mantra
Hadirkan senja pada kesunyian
Aku meringkuk; perempuan senja
Mencium basah di ujung jingga
Kau; lelaki hujan
Ciptakan tujuh warna menutupiku
Adalah kita satu raga
Ketika kau pergi, aku datang menunggu
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Lantunan Doa Untuk Ayah
Pagi ini fajar lebih dulu mengecup embun
Tak lupa belaian angin menyapa dedaunan
Rumah-Mu masih terlihat hening dan sepi
Hanya sesekali terdengar kicau burung merdu hilir mudik
Perlahan lututku bersandar pada gundukan tanah merah
Tanpa sadar beningan kristal lahir dari kelopak mata
Bibir terasa kelu melantunkan baris tiap baris do’a
Mataku sayu dengan tatapan nanar
Kutatap lagi puisi yang tertulis
Untuk menyampaikan seutas rindu dan cinta
Dalam sajak tak bergema
Kulantunkan kembali do’a untukmu
Tanjung Balai, 29 Mei 2013
Tentang Hati
Kegoisan saat nafsu terlalu memburu
Mengalahkan logika ; berimbas cemburu
Menyerupai belati menuai luka
Adalah kelembutan saat tersentuh rasa cinta
Tenang ; memeluk hangat meski dingin membeku
Adalah globe makhluk Ilahi
Hitam putih perjalanan hidup
Misteri ketika mata tertutup
Tanjung Balai, 6 Juli 2013
Sepotong Rindu
Tak ubah empedu
Tak lengkang oleh waktu
Hadirkan sepotong rindu dalam pagi menjelma
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Ayu Ira Kurnia Marpaung nama lengkap dari penulis. Beberapa karyanya berupa artikel, puisi dan cerpen pernah dimuat di Tabloid Gaul, Medan Bisnis, Batak Pos, Harian Waspada, C-Magz, Majalah Kiss, Asahan Post, Majalah Liberty, dan Majalah Frasa Online.
Aktif di dunia Kepenulisan Online Cendol dan Cermat untuk Wilayahnya. Jika ingin menyapanya lebih dekat dapat Add akun facebooknya di Ayuslalu43@yahoo.co.id atau twitter @AyuIraKurnia1.
Untuk lihat lebih lanjut silakan klik linknya. :)
http://radarseni.com/2013/07/14/ayu-ira-kurnia-marpaung/
Sabtu, 27 April 2013
Puisiku terbit di Asahan Post, 7 Januari 2013
Awal tahun yang super keren buat diirku. Kembali (lagi) puisiku hiasi koran Asahan Post edisi Senin, 7 Januari 2013
Puisi-puisi karya Ayu Ira Kurnia Marpaung
(1)
Hari Kita, Ibu
Ibu, baru saja dunia bersorak ria menyambut harimu
Tak hentinya mereka berkoar-koar menyanjungmu
Hingga suara mereka perlahan serak
Ibu, di bulan yang sama aku ingin bersorak jua
Lihat! Bulan ini kita menangis bersama
Saling meniup lima lilin di atasnya
Merayakan tiga hal istimewa sekaligus
Kelahiran seorang Ibu, anak, dan seluruh Ibu nusantara
Ibu, akhir tahun bukan akhir dari doaku dan doamu
Aku ingin selamanya memeluk tubuhmu, mencium aroma peluhmu, dan menggenggam mimpi kita bersama
Tanjung Balai, 24 Desember 2012
(2)
Setahun Yang Lalu
Ini cerita gadis mempertahankan cintanya
Meski harga diri telah dipertaruhkan
Hanya caci maki yang didapat
Ini cerita gadis bodoh yang dipermainkan oleh cinta
Rela disetubuhi meski ikatan suci belum terjalin
Kalian tahu? Dia gadis lugu yang diperbudak asa
Mencari ke sana kemari nikmatnya cinta
Pun tak bertemu, hingga jembatan jadi jawabannya
Ini cerita gadis malang setahun yang lalu
Tanjung Balai, 24 Desember 2012
(3)
Tahun Baru Tanpa Ayah
Tuhan, bagaimana kabar Ayah di sana?
Dia baik, kan?
Masih adakah senyumannya untukku hari ini?
Ayah, aku kangen pelukanmu yang meredam amarahku
Aku rindu akan semua tegurmu saat aku salah
Aku rindu tangis harumu saat satu persatu mimpi kuraih
Ayah…aku kangen
Album usang kini jadi temanku
Bersama Ibu kunikmati tahun baru ini
Tanpamu, tanpa canda, dan tanpa senyummu
Tanjung Balai, 24 Desember 2012
Puisi-puisi karya Ayu Ira Kurnia Marpaung
(1)
Hari Kita, Ibu
Ibu, baru saja dunia bersorak ria menyambut harimu
Tak hentinya mereka berkoar-koar menyanjungmu
Hingga suara mereka perlahan serak
Ibu, di bulan yang sama aku ingin bersorak jua
Lihat! Bulan ini kita menangis bersama
Saling meniup lima lilin di atasnya
Merayakan tiga hal istimewa sekaligus
Kelahiran seorang Ibu, anak, dan seluruh Ibu nusantara
Ibu, akhir tahun bukan akhir dari doaku dan doamu
Aku ingin selamanya memeluk tubuhmu, mencium aroma peluhmu, dan menggenggam mimpi kita bersama
Tanjung Balai, 24 Desember 2012
(2)
Setahun Yang Lalu
Ini cerita gadis mempertahankan cintanya
Meski harga diri telah dipertaruhkan
Hanya caci maki yang didapat
Ini cerita gadis bodoh yang dipermainkan oleh cinta
Rela disetubuhi meski ikatan suci belum terjalin
Kalian tahu? Dia gadis lugu yang diperbudak asa
Mencari ke sana kemari nikmatnya cinta
Pun tak bertemu, hingga jembatan jadi jawabannya
Ini cerita gadis malang setahun yang lalu
Tanjung Balai, 24 Desember 2012
(3)
Tahun Baru Tanpa Ayah
Tuhan, bagaimana kabar Ayah di sana?
Dia baik, kan?
Masih adakah senyumannya untukku hari ini?
Ayah, aku kangen pelukanmu yang meredam amarahku
Aku rindu akan semua tegurmu saat aku salah
Aku rindu tangis harumu saat satu persatu mimpi kuraih
Ayah…aku kangen
Album usang kini jadi temanku
Bersama Ibu kunikmati tahun baru ini
Tanpamu, tanpa canda, dan tanpa senyummu
Tanjung Balai, 24 Desember 2012
Selasa, 06 November 2012
Puisiku di Batak Pos, 3 November 2012
Kembali lagi puisi-puisi sederhanaku mewarnai Koran Batak Pos edisi Sabtu, 3 November 2012 bersama opini "Minat Para Pembaca"ku.
Hujan Oktober
Daun
telinga terusik oleh tetesMu yang jatuh di atas gubukku
Meninggalkan
aroma basah menggelitik pada lantai pijakku
Pun
dingin merambat hebat sekujur tubuh
Seklumit
rindu jauh menghampiri jendelaku
Sayang,
hujan ini membawa pesanmu
Tanjung Balai, 16 Oktober 2012
Kemana Presiden Kita?
Tak
jemu kami mencarimu
Di
sudut kegelapan tempat kau bersembunyi
Kemana
dirimu?
Lihat!
Perlahan istanamu oleng ke sana kemari
Keluarlah,
jangan meringkuk malu
Cambuk
tikut berdasi dengan pecut yang kau punya
Bukan
ikuta lari bersamanya
Hei!
Pun kertaskertas usang mencarimu, spanduk besar, bahkan elektronik sekalipun
Kemana
presiden kita?
Akupun
diam tak tau
Tanjung Balai, 16 Oktober 2012
Opini singkatku di Batak Pos
Rabu, 26 September 2012
Puisiku di Harian Waspada, 9 September 2012
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa juga menampilkan puisi-puisiku di Koran Harian Waspada bersama penulis lainnya.
Puisi Hujan dan Lelaki Kopiku dimuat di Koran Harian Waspada Minggu, 9 September 2012
Dua puisi yang sudah lama kusimpan dan baru berani mengirimkannya setelah melewati masa galau ^_^
Puisi Hujan dan Lelaki Kopiku dimuat di Koran Harian Waspada Minggu, 9 September 2012
Hujan
Pagiku bertemankan rinai hujan
Yang membalut tubuh
dalam dingin beku
Kumeringkuk di sudut hampa
Mengharap kau datang
membawa hangat
Hujan, begitu cepatkah kau datang?
Bersama luka menganga
dalam ruang ini
Haruskah ku terlena dalam tetes
demi tetesmu
Lelaki Kopiku
Aku mengagumimu dari jarak aroma
yang kau hidangkan
Mengecap sedikir rasa
yang meleleh pada gelas
Adakah kau memberi cinta
pada aroma kopi itu?
Hingga aku benarbenar terbuai dalamnya
Yang akan berhenti jika kata mereka aku tlah tiada
Dua puisi yang sudah lama kusimpan dan baru berani mengirimkannya setelah melewati masa galau ^_^
Puisiku di Batak Pos, 1 September 2012
Gadis Pemimpi
(Oleh : Ayu Ira
Kurnia)
Berjalan di
lorong-lorong kehidupan
Menyelusuri setiap
jejak bayang semu
Mengecap
asa—tergeletak di jalan, tak lepas dari noda
Kau tersenyum
melihatnya
Katamu, itu rotasi
yang akan terus berputar
Kau tertawa, itu
hanya lelucon semata
yang akan hilang
oleh keajaiban
Mimpimu selalu
hadir dalam tidur panjangmu
Berharap setiap
cerita di dalamnya menjadi nyata bukan semu
Sederetan aksara
demi aksara terukir
Menanti sejumlah
syair yang tercipta
Dalam lorong
kehidupan gadis pemimpi.
Tanjung Balai, 25 Mei 2012
Terbit di Koran Batak Pos Sabtu, 1 September 2012
Minggu, 22 Juli 2012
Puisiku di C-Magz edisi 12
Taraaaaa, udah lama banget aku ninggalan rumah inspirasiku. Apa kabarnya ya? Hihihihi, dari pada berlama-lama aku cuma mau bilang kalau aku sangat sangat bahagia. Sepulang dari KemSasNas II begitu banyak kejutan yang kudapat. Salah satunya puisiku nongol di C-Magz edisi 12, salah satu majalah di Kelas Cendolku. Yuk, mari baca dan silakan tinggalkan kripik dan saran untuk diriku lebih maju. ^_^
Ayu Ira Kurnia
Juni akan berlabuh pada pelukan Juli
Ayu Ira Kurnia
Dari yang unyu sampai tua
Rindu KemSasNas
Ayu Ira Kurnia
Juni akan berlabuh pada pelukan Juli
Menyuguhkan cinta maya dalam nyata
Penawar rindu yang tersimpan pada labiri hati
Tangis haru iringin pertemuan
Dekapan hangat meleburkan semua asa
Oh, KemSasNas
Bisakah aku menemui
Melepaskan semua gundah yang membebani
Meluapkan rasa yang terpendam
Tertawa bersama alam
Memungut serpihan kasih yang terbuang
Tanjung Balai, 26 Juni 2012
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
KemSasNas II
Ayu Ira Kurnia
Dari yang unyu sampai tua
Berkumpul bersama dalam cerita cinta
Hanya ada senyum dan airmata
Mengiringi suasana Cikole nan indah
Menghapus mendung pada Juni kelabu
Juli datang membawa pelangi dalam cawan KemSasNas
Tanjung Balai, 26 Juni 2012
Puisi yang aku tulis, ketika galau. Benarkah aku akan ikut KemSasNas atau tidak? Dan ini semua serasa mimpi. I Love You Forever Cendolers.
Kamis, 21 Juni 2012
Puisiku di Medan Bisnis, 16 Juni 2012
Assalamualaikum, sahabat blogger. Kembali coretan jemariku terukir di media lokal. Puisi dengan "Pengemis Berdasi" terbit di Koran Batak Pos edisi 16 Juni 2012.
Pengemis Berdasi
Oleh: Ayu Ira Kurnia Marpaung
Terlihat gagah dengan seragammu
Kekar badanmu dan kokoh
tapi sayang kau tak ubahnya bagai pengemis
jalanan
senyum hangatmu menadahkan tangan
meminta sedikit rezeki dari kami
kadang kau keluarkan secarik kertas
tanda permohonan yang sering kau sebut "Surat Tilang"
Tanjung Balai, 10 Juni 2012
Rabu, 06 Juni 2012
Puisiku di Batak Pos, 19 Mei 2012
ALhamdulillah, kembali pada-Mu ya Allah. Puisi ketigaku bersama sahabat-sahabat cendol kembali di muat di Koran Batak Pos edisi sabtu 19 Mei 2012.
Marah
Oleh: Ayu Ira Kurnia Marpaung
Bumi menghentak geram
Langit menangis meronta-ronta
Rinai perlahan berubah badai
Laut berlari mengejar ombak
Biru tertutup kabut hitam
Gelap hingga tak tampak
Alam marah
Alam murka
Dengan ganasnya ia kobarkan si jago merah
Ia titahkan gunung mengeluarkan laharnya
Ia cambuk tanah untuk turun merobahkan pepohonan
Renungkanlah…
Alam tak lagi bersahabat
Ia benar-benar meninggalkan kita
Resapilah…
Teguran dan sapaan alam yang mengetuk pintu hati
Dengan lembut
Ia bukan sahabat kita kala amukannya meluap-luap
Tanjung Balai, 12 Mei 2012
Oleh: Ayu Ira Kurnia Marpaung
Bumi menghentak geram
Langit menangis meronta-ronta
Rinai perlahan berubah badai
Laut berlari mengejar ombak
Biru tertutup kabut hitam
Gelap hingga tak tampak
Alam marah
Alam murka
Dengan ganasnya ia kobarkan si jago merah
Ia titahkan gunung mengeluarkan laharnya
Ia cambuk tanah untuk turun merobahkan pepohonan
Renungkanlah…
Alam tak lagi bersahabat
Ia benar-benar meninggalkan kita
Resapilah…
Teguran dan sapaan alam yang mengetuk pintu hati
Dengan lembut
Ia bukan sahabat kita kala amukannya meluap-luap
Tanjung Balai, 12 Mei 2012
Senin, 14 Mei 2012
Puisiku di Batak Pos, 21 April 2012
Alhamdulillah, ya sesuatu. Aku bisa nulis di blog lagi. Setelah blog lamaku nggak bisa dibuka.
Buat teman-teman pecinta blog. Di sini aku mau nulis beberapa puisiku yang sudah terbit di media koran. Awal mula dari semua perjalanku untuk menjadi penulis.
Silakan simak dan ditunggu komennya ^_^
Puisi pertamaku yang terbit di Koran Batak Pos, Sabtu 21 April 2012.
Buat teman-teman pecinta blog. Di sini aku mau nulis beberapa puisiku yang sudah terbit di media koran. Awal mula dari semua perjalanku untuk menjadi penulis.
Silakan simak dan ditunggu komennya ^_^
Puisi pertamaku yang terbit di Koran Batak Pos, Sabtu 21 April 2012.
Aku Juga Seperti Mereka
Oleh : Ayu Ira Kurnia Boru Marpaung
Suara keras bukan marah, sayang
Muka sangar bukan preman, kawan
Badan kerar bukan bodyguard, sobat
Orang bilang temperamental
Tapi itu bukan pribadi buruk, kawan
Aku bangga, tak malu menyatu dengannya
Darahku mengalir adat mereka, kawan
Aku juga sama seperti mereka
Aku juga orang batak, kawan
Puisi keduaku bersama teman cendolers yang lain Ayana Lubis dan Pilo Poly di Koran Batak Pos, Sabtu 5 Mei 2012.
Inang
Oleh : Ayu Ira Kurnia Boru Marpaung
Langkahmu tak setegar dulu
Satu persatu mulai lepas dari pergelangan, lumpuh
Suaramu tak semerdu dulu
Kini telah terdiam seribu bahasa, bisu
Wajahmu tak semolek dulu
Guratan garis kriput mulai menjajah, tua
Tetesan kristal memecah bedungan
Tertunduk lesu melihat tubuhmu terbaring
Senyuman ikhlas tak pernah pudar dari bibirmu
Inang, kau semangat dalam hidup
Pun kini kau tak bisa apa-apa
Tanjung Balai, 30 April 2012
Dalam Sujud
Oleh : Ayu Ira Kurnia Boru Marpaung
Suara lafaz terdengar sayup
Terhenti bergegas melangkah
Percikan air terdengar seirama
Kubentangkan sajadah sujud
Menadahkan tangan penuh darah dan dosa
Mengharap belas kasih-Mu
Dalam sujud airmata terus menghujam
Tiada henti bak sayatan tangan
Bercucur darah segar
Dalam sujud mengadap-Mu
Kuserahkan ruh bersama-Mu
Menikmati balasan atas tubuh yang bergelumur nista
Tanjung Balai, 30 April 2012
Selamat membaca dan siap untuk diapresiasikan ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)









