Tampilkan postingan dengan label Corat-Coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-Coret. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

Cendol Berduka

Tadi pagi, sebelum berangkat kerja kebiasaan buka-buka facebook dimulai lagi. Langsung kaget waktu baca postingan Bunda, mengabarkan kalau kak Kus Calvin (KOOR OPC) telah berpulang. Sedih rasanya. Aku mengenalnya lewat maya, sapanya. Semuanya begitu ramah dan nyata. Kak, ini kupersembahkan puisi sederhana untukmu. 

Untuk Sebuah Nama 
Kau datang ke rumah ini membawa cerita
hadirkan tawa dalam resah
Sesekali tanganmu merengkuh kami; menguatkan atas apa yang terjadi

Lalu, hujan menyapa pagi tadi
Kabarkan kau pergi tak kembali
Berpindah ke rumahNya; penuh wangian surga
Kami menangis, banjir sudah lantai kebersamaan
Kau pikir kami lupa satu hal?
Tidak!
Hadirmu tetap di sini
Menggenggam erat dalam gores pena
Ribuan doa, airmata, ikhlas mengiringi perjalananmu

TanjungBalai, 12112013

Untuk Kak Kus Calvin, Allah menyayangimu  Kami semua selalu merindukanmu.

Senin, 22 Juli 2013

CERIA (Cerita Ayu) 3

*Sambungan*

Sementara Nia mencoret-coret bukunya. Ia kesal setengah hidup. Bisa-bisanya Nizar tak paham dengan situasi ini.

"Lo ngambek sama gue? Huh! Baru cowok kayak gitu aja lo udah ngambek segala," sosor Nizar tiba-tiba.

Nia masih diam. Ia pura-pura tuli biar Nizar kesal dan pergi dari hadapannya. Namun, usahanya gagal. Nizar tetap saja ngerocos panjang lebar tanpa mikir kalau di depan banyak tikungan tajam.

"Mending lo cari cowok yang lebih baik aja deh daripada si Joe itu," usul Nizar.

"Emang lo pikir Joe itu anak ilang apa main cari-cari aja. Kenapa? Lo juga naksir sama dia. Hm... pantesan aja tadi langsung lengket kayak perangko," sahut Nia sinis.

"Jiaaahh, gue cemburu sama lo karena Joe. Nggak banget deh! Lo belum tau sih Joe kayak apa. Gini aja deh, daripada lo nuduh gue yang nggak-nggak, mending sekarang lo liat kelakuan si Joe," tarik Nizar paksa. Nia hampir saja jatuh tersungkur lagi. Nizar tak peduli. Nizar mirip orang yang tak sabar melihat harta karun.

"Tuh, liat!" tunjuk Nizar saat sampai di TKP.

Deg! Nia hampir saja jatuh pingsan melihat sang pujaan hatinya. Mulutnya menganga lebar, untung saja tak ada satu lebahpun atau lalat yang lewat. Kalau airmatanya jangan ditanya, Nizar sampai rela nampung airmatanya pakai baskom. Ngeri amat ya.

"Zar, gue nggak mimpi, kan?"

"Ih,lo bego atau bloon sih Nia. Jelas lo nggak tidur. Emang ada gitu tidur sambil jalan, kecuali lo tidur sambil ngigo."

Nia mempertajam penglihatannya setajam silet. Memastikan kalau yang dilihatnya benar-benar Joe, bukan orang yang mirip Joe atau kebetulan mirip.

"Astaga Joe, beneran gue nggak percaya.Ternyata lo..." Nia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Makanya gue selaku penulis yang melanjutkannya. Ternyata Joe seorang homo, dan memilih mencintai sesama jenis dibanding lawan jenisnya.

*END*

Jumat, 19 Juli 2013

CERIA (Cerita Ayu) 2

Malu! Malu! Malu. Cuma itu yang terlintas saat kejadian siang tadi. Oke, sebut aja pelakunya Nia, cewek pendiam tapi menghanyutkan. Dan si cowok, panggil aja Joe.

"Kok bisa sih, lo jatuh samapi idungmu tambah mancung ke dalam," ledek Nizar.

"Huh! Dasar gotik. Ini mah udah dari sononya. Namanya juga curi-curi pandang. Gak mungkin kali aku lambai-lambai tangan sambil bilang miss u," sahut Nia kesal. Hampir saja lupa. Kenapa Nizar disebut gotik, pasti udah pada tahu jawabannya. Hihihi....

"Halah, alasan aja lo. Kalo naksir tinggal tembak aja susah amat. Emang sampe kapan lo mau jatuh bangun kayak gini cuma liat tampangnya. Mau sampe idung lo bener-bener nyungsep," lagi-lagi Nizar meledeknya.

"Sewot amat sih. Suka-suka gue dong. Mata-mata gue," balas Nia tak mau kalah.

Kalau udah gini bakalan ada perang dunia kesekian. Nggak bisa disebutin soalnya mereka udah acap kali perangnya, alias perang mulut.

"Gosipin gue ya..." Nia hampir saja kejang-kejang lihat sang pujaan hati nyamperin dia. Untung saja Nizar udah siapin benteng untuk itu.

"Pede amat digosipin. Si amat aja yang digosipin cuma diam," balas Nizar ngaco.

"Lo lucu banget sih. Gemesin tau."

Lucu! Gemesin! Nia terbakar cemburu. Kok bisa-bisanya Joe bilang Nizar lucu dan gemesin, padahal mendekati kata itu aja jauh banget. Sangking cembururnya, Nia nggak sadar kalau bibirnya udah monyong mirip Omas.

"Kenapa tuh bibir?" tanya Joe polos.

"Bodo! Gue balik dulu. Gerah banget di sini," jawabnya ngasal.

Joe bengong. Nggak biasanya Nia secuek ini. Pasti ada yang gak beres, guman Joe lirih.

"Zar, lo tau Nia kenapa? Apa gue ada salah ya?"

"Iya! Salah lo banyak amat." Lagi-lagi amat terus membanjiri kalimat Nizar.

"Loh, gue salah apa coba?"

"Mau tau aja atau mau tau banget nih," goda Nizar.

"Lo kepo banget sih. Tinggal kasih tau aja pake goda-goda gue segala."

"Idih, malah marah. Oke! Oke! Sebagai teman yang baik gue kasih tau nih. Salah lo itu sebenarnya cuma satu. Tapi dari satu berakar jadi dua, tiga, empat, sampai seterusnya."

"Rumit banget penjelasan lo. Udah mirip ngafal rumus fisika aja." Joe menggaruk kepalanya yang peuh ketombe.

"Hihi... Sori. Nia suka sama lo. Sangking sukanya dia sering jatuh gara-gara lo, kejedot tembok buat liat lo, yang lebih parahnya dia sampe kejebut got hanya liat lo. Parah banget, kan?"

"OMG! Segitunya..."

"Lo gimana sih, gue capek-capek cerita komennya cuma OMG. Gila! Masak iya teman gue naksir cowok yang tulalit kayak lo," serang Nizar blak-blakan.

Joe yang tadinya penasaran sekarang malah panas dingin. Gini nih, kalau ada cewek yangg naksir dia. Apalagi cewek itu Nia, teman sekolahnya yang paling jutek sama cowok. Melihat kondisi Joe, Nizar malah panik. Segala jenis obat tak ampuh.

"Dari pada gue disuruh jadi saksi, mending gue kabur dah."

*bersambung*

Senin, 15 Juli 2013

CERIA (Cerita Ayu) 1

Hari ini, aku kesal dengan diriku sendiri. Kenapa? Soalnya, ini pertama kalinya aku buka puasa lebih cepat dari waktunya. Huh! Sebel banget. Kenapa ya saat para setan dipenjara oleh Allah, kita malah bermusuhan dengan hawa nafsu. Emang nggak bisa ya kalo hawa nafsunya ikut dipenjarakan.

Jam 12 teng, kepalaku mulai nyut-nyutan. Nggak tau kenapa. Aku cuek aja. Dari pada tambah pusing mikirin kepala. Sebagian pekerja ada yang istirahat karena nggak puasa. Dalam hati, aku udah niat bakal tahan nih. Alhasil, jam 2 aku nggak sanggup ngerasain kepalaku yang nggak bisa diajak kompromi. rasanya lebih sakit dari ditusuk jarum, dipukul pake palu godam, dan lebih sakit dari pada diputusin pacar (emang ngaruh apa?). Diam-diam, ya nggak mungkin kan kalau aku teriak pake toak, aku keluard ari ruangan buat cari air minum. Udah berasa di padang pasir deh. Untung aja ketemu tuh galon buat bantu aku minum obat. Nggak butuh waktu lama, aku jalan pulang ke ruangan, maksudnya sih biar tuh mandor alias atasanku nggak curiga. Tau sendiri kalo tau anggotanya nggak puasa. Udah pasti idupku bakal kiamat. Serem banget dah.

Dan buat aku lebih kesel dan ngutuk diri sendiri, kami dipulangkan lebih cepat dari biasanya. Jam 16.00 cuuyyy. Apa nggak gila tuh? Mending tadi pusingnya bisa di pending, kan aku nggak harus batalin puasa cuma buat minum obat.

Penyesalan emang datang belakangan, sampae rumah aku cuma bisa cerita sama Ibu kalo aku udah nggak puasa. Tambah gondok liat menu buka puasa yang amat sangat aku sukai. Nyeseeellll pake banget deh, kalo boleh koprol aku udah koprol dari tadi.




Rabu, 27 Juni 2012

Rumah Terakhir

Rumah Terakhir

Sedih, airmata, dan penyesalan selalu datang ketika orang yang kita sayangi harus berpulang terlebih dahulu. Tak ada bedanya denganku. Bahkan aku tak mengenal sosok itu. Sosok yang seharusnya menemaniku berlari, bangun dari jatuh, dan berteriak lantang pada dunia.

Ya, sosok itu telah jauh pulang ke rumahNya saat aku masih suci. Belum pernah menyebut nama yang seharusnya kusebut "Ayah".

Kita pasti kembali pada rumahNya. Tapi tidak ada satupun yang tahu kapan itu tiba waktunya. Saat kita sedang tertawa bersama mereka. Atau saat kita sedang bernostalgia. Hanya amanat yang pernah diucapkannya yang membuat kita merasa terpukul dan sedih jika belum mewujudkannya.

Aku belajar dari wanita yang begitu tegar. Yang selalu senyum walau wajahnya melukis gurat kesedihan. Dia lebih merasa kehilangan sebagian nyawa dalam hidupnya. Airmatanya sudah terkuras habis, kata-katanya tersesat entah kemana, bahkan untuk sebuah jeritanpun sudah tidak ada lagi.

Aku tau yang kau rasakan teman. Merasa sangat kehilangan. Apalagi kesedihanmu tidak dapat kau luapkan dihadapannya karena jarak. Lantunkan doa padanya. Iringin kepergiannya dengan senyum bangga karena kau sudah mengenalnya. Aku percaya kau mampu berdiri pada hantaman ombak ini. Tersenyum, buatlah dia bangga padamu.


Sebatas Teman

Sebatas Teman 


"Maaf, Mas. Mungkin rasa yang Mas ucapkan hanya sesaat saja," ucapku bergetar.

"Itu menurutmu, Dik. Tapi aku yakin dengan perasaan ini. Aku tahu, kau pasti tak akan percaya setelah apa yang kuperbuat satu tahun silam."

Ya, kau sudah tau jawabannya. Aku takut untuk merasakan sakit dari orang yang sama. Takut untuk dikecewakan dan dicampakkan begitu saja.

"Dik..." panggilmu lirih.

"Ya, Mas."

"Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan itu. Aku menyadari kebodohanku telah membuang rasa yang tulus kau berikan padaku. Sekarang aku baru mengerti kalau dirimu cinta pertamaku," ujarmu memelas.

 Tuhan, tolong aku dari semua perasaan ini. Haruskah aku memberikan kesempatan ini padanya? Aku masih takut! Bahkan aku belum bisa mempercayai semua kata yang keluar dari bibirnya. 

"Maaf, Mas...." ucapku lebih lirih dari sebelumnya.

"Apa kau sudah memiliki penggantiku? Apa kau tega membiarkanku dalam sepi yang mengutukku?"

"Apa maksudmu Mas?" Kini kuberanikan untuk menjawab semua pertanyaanmu. "Kau bilang aku tega! Siapa yang lebih tega membiarkan aku terdampar pada luka?" Suaraku meninggi.

"Aku wanita, Mas. Perasaanku akan rentan bila ada luka yang siap menggores hatiku. Apa kau bisa merasakan apa yang kurasakan dulu? Apa kau masih ingat saat aku mengemis cinta padamu?" Lanjutku diiringi beningan kristal yang tidak dapat kutahan.

Kau hanya tertunduk merenung setiap layar memori yang hadir di kepalamu. Aku masih terus menangis. Apalagi yang bisa kuperbuat untuk semuayang telah terjadi.

"Baiklah, mungkin aku terlalu hina memasuki ruang sucimu lagi, Dik. Benar ucapanmu! Kemana aku saat kau sakit, terpuruk, dan kesepian olehku. Penyeselan. Itu kata yang pantas untukku. Aku lelaki tak bermalu!" Serumu seratya mengutuk diri sendiri.

"Tidak, Mas. Hanya waktu dan keadaan yang merubahmu. Sekarang kita hanya teman. Ya, teman biasa. Kuharap kau dapat menemukan jauh lebih baik dariku," ucapku datar menghapus lembut airmata yang telah jatuh.

Ya, kita hanya teman sekarang. Teman yang dulunya adalah sepasang kekasih. Dan aku harus terluka karena percaya akan kebohongan yang telah kau tulis dalam kertas skenariomu. Dulu kita bersama. Jauh sebelum kau meninggalkanku dengan banyak luka yang menyayatku.

"Izinkan aku menempatkan namamu di sini, hatiku," pintamu.

"Aku tak akan melarang. Tapi, jangan pernah jadikan aku racun pada hubunganmu esok, Mas. Karena aku ingin kita menjaga agar luka itu tak semakin lebar."

Kau mengangguk lemah. Seperti tidak rela jika hanya menyimpan namaku. Tapi apa mau dikata. Nasi telah menjadi bubur. Dan kau harus menelannya, walau mulutmu tidak menerima.









Minggu, 24 Juni 2012

Nada Kerinduan

Nada Kerinduan 

"Aku masih menunggumu di sini," ucapku lirih dengan butiran bening yang jatuh di sudut kelopak mataku.

Sajakku telah berhenti
Pada aksara yang lelah menemaniku
Hanya untaian kata yang terucap
Dari labiri hati 

"Tasi, kuharap kau cepat kembali dan kita akan sama-sama bercerita tentang rasa yang terabaikan," lanjutku.

Alam terlalu bosan mendengar ocehan rinduku ini. Tapi hanya ini yang dapat kulakukan. Semenjak kepergianmu beberapa tahun yang lalu, aku seperti mayat hidup yang berada di tengah-tengah keramaian. Ilalang hanya bergoyang jikalau beningan kristalku jatuh di atas mereka. Angin terus membawa semua rinduku hingga terurai entah kemana.

"Sudahlah, Nov. Jangan kau tangisin dia. Apa kau tak merasa kasihan melihatnya di sana. Dia pun tersiksa atas apa yang terjadi dengan diri kalian," ujar Ira memegang pundakku.

"Aku yakin dia pasti kembali, Ra. Kami akan memungut kembali serpihan rindu yang berserakan di luar sana," sahutku menatap matanya.

Ira hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturanku. Dia mungkin sudah menganggapku gila, bahkan lebih dari itu. Kadang yang tidak pernah kepikiran olehku apa yang terjadi dengan Tasi. Mengapa ia menghilang tanpa jejak dari kehidupanku. Apa aku melakukan kesalahan yang besar, hingga dia pergi? Batinku menjerit.

"Nov, sebaiknya kau istirahat dulu. Aku khawatir dengan keadaanmu. Jangan pernah menyiksa dirimu sendiri atas apa yang tak pernah kau perbuat."

Ira beranjak ke kamarnya. Meninggalkanku di koridor depan rumah. Aku masih enggan untuk bergeser dari tempat dudukku.

"Tasi, aku akan tetap menunggumu." Ucapku sambil membenamkan wajahku dalam celah kedua kakiku.

*
"Bagaimana kabarmu, Nov? Pasti kamu sekarang lebih dewasa dan cantik," tanyamu ketika itu lewat ponsel.

Pipiku merona, walaupun kau tidak akan tahu itu.

"Baik, Tas. Aku masih seperti dulu kok. Masih acak-acakan, dan nggak akan pernah berubah," jawabku tersipu.

"Aku nggak percaya itu. Aku yakin kau pasti berubah banyak. Nov, ada yang ingin kukatakan padamu. Dan ini serius," ucapmu dari sebrang sana dengan nada yang berbeda.

Aku gusar. Perasaanku kala itu aneh. Belum pernah sebelumnya kau berbicara dengan nada seperti itu. Dan aku yakini itu pasti hal yang serius.

"Nov..."

"Ya. Eh,,, mau ngomong apa tadi," ucapku gagap.

"Hmm."

Hening hanya ada helaan napasmu yang kudengar. Cukup lama.

"Aku mencintaimu, Nov. Sangat mencintaimu. Bahkan sejak kita masih SD dulu, aku sudah menaruh perasaan itu. Aku tau ini mungkin terlalu cepat. Tapi, aku benar-benar mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya."

DEG!!!

Jantungku seperti telah berhenti berdetak. Ada rasa yang aneh mengalir di sekujur badanku. Aneh. ini pertama kalinya Tasi mengungkapkan perasaannya padaku. Selama ini kami seperti anjing dan kucing, tidak pernah akur. Tapi ini, ada apa dengan Tasi.

"Nov..." Panggilmu hati-hati.

"Maaf, Tas."

"Kenapa harus minta maaf, Nov. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah terlalu lancang untuk mencintaimu."

Kudengar ucapanmu kini dengan nada sedih. Aku tidak dapat melihatmu, tapi bisa merasakan suasana hatimu saat ini.

"Aku juga mencintaimu, Tas. Aku juga sudah lama memendam perasaan ini," jawabku akhirnya.

"Benarkah ini yang kudengar. Ini bukan mimpikan."

"Bukan!"

"Makasih, Nov. Aku bahagia sekarang. Walau jarak yang jauh sebagai penghalang kita. Aku yakin kita pasti bisa melewatinya. Sebagai rasa bahagiaku, izinkan aku menyanyikan lagu untukmu."

Tanpa menunggu jawaban dariku. Samar-samar kudengar petikan gitar yang selalu kau mainkan sejak dulu.


Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu

Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku

Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku

 Rasa terharu membuatku menangis tanpa sadar. Lagu Andra and The Backbone dengan lirik "Sempurna" membuatku terhanyut di dalamnya.

"Itu yang kusuka darimu. Suaramu, petikan gitarmu selalu menjadi nayawa dalam hidupku," ucapku dalam hati.

"Makasih Tasi buat semuanya. Lagu yang kau persembahkan untukku.Aku sangat menyukainya," pujiku.

"Iya, sayang. Aku janji akan terus menyanyikannya untukmu. Menemanimu dalam sepi dengan petikan gitarku. Aku selalu mencintaimu. I love you."

"I love you too."

*

"Nov, yuk ikut aku pantai. Mungkin bisa membuat hatimu lebih baik dari sekarang," ajak Ira.

Ira sepupu sekaligus teman curhatku. Dia lebih mengerti aku dengan perasaan rindu pada Tasi. Membiarkan bajunya basah dengan airmataku. 

"Aku lagi malas keluar, Ra," sahutku lesu.

Ira menghempaskan pantatnya di sampingku. Dengan lembut ia mengelus rambutku seperti menghadapi seorang anak kecil.

"Nov, jangan bohongi aku. Dengarkan aku ya, jika kau terus seperti ini yang ada kamu nggak bakal bisa ketemu Tasi. Kamu harus kuat dan tetap semangat. Nanti aku bakalan bantu kamu buat cari dia," bujuknya.

Dengan enggan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhku dan membuat wajah lusuhku secerah langit pagi ini.

*

"Nov, gimana kamu sukakan dengan suasananya. Aku tau kamu bakalan suka. Soalnya siapa yang nggak tau seorang Novi yang maniak biru, suka pantai, dan rela menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk memandang birunya laut," celetuk Ira menggodaku.

Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Aku seharusnya tidak seperti ini, mengabaikan semua usaha Ira untuk membuatku tersenyum dan melupakan sejenak Tasi. Tidak, bukan melupakannya. Hanya membiarkannya sejenak beristirahat dalam pikiranku.

"Ra, bolehkan aku bermain dengan pantai," pintaku seolah-olah Ira adalah orangtuaku.

"Hahaha, kamu ini ada apa sih Nov. Ya sudah sana, ngapain pakai izin segala sih," gelaknya.

Perlahan kulangkahkan kaki telanjangku ke ujung bibir pantai. Menikmati jilatan ombak yang sangat antusias. Sesekali angin laut berhembus menerpa rambut dan menampar wajahku. Aku begitu bersahabat dengannya. Berkali-kali kufokuskan tatapanku pada laut, dan entah kenapa bayangan akan dirimu bermain di sana.

"Taaassiiiiiiii." Pekikku bersama hantaman ombak ke karang.

"Nov, kamu kenapa," tanyanya khawatir denganku.

"Aku benar-benar merindukannya, Ra. Aku nggak bisa melupakannya. Seberapa langkahpun aku menjauh, Tasi selalu hadir dalam bayangan. Ia tersenyum dan mengajakku ke suatu tempat. Aku kangen, Ra..." Ucapku dalam tangis.

"Nov, sabar. Jangan pernah seperti ini. Tasi nggak ada di sini."

"Ra, sampai kapan aku terus sabar seperti ini. Sampai kapan aku aku akan diam tanpa berusaha mencarinya. Aku mencintainya, Ra."

Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan padanya. Dia bungkam dan tidak bisa menjawab satupun pertanyaanku. Ya, itu hal konyol. Mana mungkin dia bisa mengerti semua perasaan yang kuhadapi, tanpa ia merasakannya.

Aku mundur beberapa langkah darinya. Menjauh dan berlari semampuku untuk tidak melihat wajahnya. Aku terlalu muak dengan kata-katanya yang tidak pernah mengerti tentangku.

*
"Nov, aku rasa hubungan kita nggak bersama lagi. Aku takut hubungan kita akan putus di tengah jalan," ucapnya suatu hari.

"Tasi, aku percaya nggak akan ada apa-apa dalam hubungan kita. Aku sayang kamu dan begitu juga sebaliknya. Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan," jawabku datar.

"Nggak, Nov. Kita harus berpisah, jika kita berjodoh aku yakin takdir akan mempertemukan kita. Menyatukan kita kembali."

Aku tertunduk lesu. Harusnya saat ini kita tertawa ria. Kerinduan yang sudah menumpuk pada ruang hati bisa tercurahkan dengan suka cita. Tapi kenapa kau membawa berita buruk. Bahkan lebih buruk dari kematian.

"Maafkan aku, Nov. Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya. Aku nggak mau kau kecewa denganku karena aku nggak bisa membahagiakanmu," lanjutmu kemudian.

*

Pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

Kupetik gitar yang sudah lama tidak pernah kujamah. Semenjak kepergian dirimu aku membenci gitar. Malam ini rasa rinduku telah memuncak. Kupaksa jemari untuk memainkannya dan menyanyikan lirik lagu yang sama seperti perasaanku saat ini. 

"Tasi, kuharap lagu ini mampu menyampaikan semua rinduku yang membuatku sesak," lirihku.

Bintang menapaki dinding langit satu persatu ditambah dengan pancaran rembulan yang bersembunyi di belakang awan hitam. Airmata terus bergulir membasahi pipiku. Tanpa memperdulikan ejekan dari rombongan jangrik yang terus bersahut-sahutan mentertawakanku dalam kerinduan.

Malam ini mengajarkanku tentang sepi yang tidak bertuan. Rindu yang terdampar pada alamat yang salah. Apakah aku harus melupakan dia? Melupakan suaranya dan petikan gitar yang selalu menemaninya jikala aku sedih. Memberikanku cawan madu yang disuguhkannya dengan cinta. 

*
"Nov, ada undangan untukmu. Dan aku harap kamu bisa tahan emosinu," tutur Ira.

Aku melonggo dalam kebingungan mendengar ucapannya.Tanganku gemetar saat menerima sebuah kertas biru yang diikat pita dari Ira. 

Lututku serasa lemas, jantungku berdetak tidak beraturan. Rasanya aku ingin mengeluarkan semua isi hatiku sekarang. Kulihat nama yang tertera pada undangan biru itu. Pernikahan Mangatasi Bagariang dengan sahabat SDku dulu, Tya Agum Gumelar. Kucoba menahan butiran hangat yang sudah memaksa untuk keluar. Dan, akhirnya aku tidak sanggup menahannya.

"Ini nggak mungkin. Sejak kapan Tasi menyukai Tya, ini pasti salah. Ini pasti salah," pekikku histeris.

"Nov, aku tadinya nggak percaya. Tapi inilah kenyataannya. Ada secarik surat didalamnya. Kamu harus baca, mungkin ada penjelasan dari Tasi akan hal ini." Ira menenangkanku.

Buru-buru kubuka surat yang ada di dalam. Tanganku gemetar bersama airmata yang menemaniku.

Dear, Novitaku
Jakarta, Maret 2011

Aku harap keadaanmu sama seperti dulu. Selalu ceria, tertawa, dan tersenyum walau luka menggores hatimu. Maafkan aku, Nov. Sejak aku meninggalkanmu hidupku berantakan, aku benar-benar kehilanganmu. Dan kamu tahu, orangtuaku menjodohkan aku dengan Tya teman kita dulu. Keluargaku sudah banyak berhutang budi dengan keluarga Tya, Mau nggak mau aku harus menerimanya.

Nov, aku tau kau pasti kecewa dengan diriku. Kau pantas mengumpat bahkan menghujatku, jika itu membuatmu lega. Nov, aku menunggumu di sini. Aku ingin melihat wajahmu terakhir kalinya. Kuharap kau datang.

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku


Sebait lagu yang pernah kunyanyikan untukmu pertama kalinya. Aku akan selalu mencintaimu walau tak seperti dulu. Namamu masih ada di sini, hatiku. I love you.

Orang yang mencintaimu
Tasi

"Kau penipu, Tas. Kau hancurkan perasaanku. Kau bajingan!" Jeritku memuncak.

Kuremas surat yang baru saja kubaca. Kulempar hingga aku benar-benar merasa terpukul. Harapanku untuk menebus semua kerinduan ini telah hancur tidak berbalas. Tasi benar-benar sudah melupakan cinta yang pernah diucapkannya. Aku terlalu bodoh menunggu lelaki yang tidak pantas untuk kutunggu.

*

Ira menatap iba padaku. Setiap mendengar semua lagu tentang rindu, aku selalu menjerit histeris ketakutan. Lari ke sudut, mendekap kakiku rapat-rapat, dan seperti orang linglung. Sejak peristiwa itu, aku sudah dinyatakan gila oleh pihak rumah sakit yang merawatku. Hanya Ira yang masih setia menjagaku. Walau terkadang ia menjadi objek utamaku untuk melampiaskan sesuatu yang kadang datang menghantuiku.

Menangis aku kenang
Saat hatiku kau tinggalkan
Hanya sakit yang aku pendam
Dalam rindu yang semakin dalam
Tak tahu harus dimana ku temukan jawabnya

Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya


Kekasih kau yang ku kenang
Jatuhkanku dalam lingkaran
Walau sakit yang aku pendam
Rindu ini tak kunjung padam
Tak tahu harus dimana ku temukan ooh


Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya


Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya


Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Sampai nanti selalu bertanya


Tanjung Balai, 25 Juni 2012
09.11






Selasa, 15 Mei 2012

Kolaborasi Puisi bareng Djoko & Pilo

Sahabat blogger, ini dia dua kolaborasi saya dengan Kak Djoko dan Kak Pilo. 
Happy reading ^_^



Teriakan Masa lalu
Oleh : Kak Djoko Sutarso dan Ayu Ira Kurnia Marpaung

Minyak
Minyak
Minyuak

Ke mana pergi suara itu
Yang dulu menyusuri lorong kotaku
Mengisi wadah harapan ibu
Satu liter untuk satu minggu

Minyak
Minyak
Minyuak

Kemana teriakan itu berlalu
Di kedai pun tiada bertemu
Berganti tabung hijau dan biru
Konon ramah menyapa tubuhku
Menjadi arang dan debu

Minyak
Minyak
Minyuak

Teriakan jadul penuh semangat
Berganti sirine ambulan kematian
Membawa korban tabung yang ramah

Minyak
Minyak
Minyuak

Kini usai perjalananmu
Duduk diam tersenyum kelu
Menahan sesak lara dan pilu
Melihat nasib si minyak lampu

Antara Jakarta dan Tanjung Balai
7 Mei 2012


Serpihan Imaji
Oleh Pilo Poly dan Ayu Ira Kurnia Marpaung

Aku segumpal darah tak berdosa
menumpang tidur di rumahmu
walau gelap gulita dan dindingnya bergoyang
tapi tak menyurutkan segala harapan

Hidup dengan harapan dan kasih-Mu
walau tetesan demi tetesan pahit kuminum
perih hingga denyut serasa berhenti
tak membuatku ingin pergi

Yang aku tahu
jelita malam indah bersama-Mu
dan di rumah-Mu itu istana segala raja
semegah apa pun kudapatkan ganti
pada-Mu satu kupuji, segala penerang mewarnai langkah ini

Antara Puri Gading dan Tanjung Balai
8 Mei 2012

Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya ya :-))

Kolaborasi Puisi bareng Hylla Shane Gerhana

Pagi ^_^ semoga masih semangat ya frend. Oke, saat ini Ay ingin menulis beberapa kolaborasi puisi Ay dengan teman cendolers Ay. Selamat menyimak ::))


Mozaik Asa
Oleh : Hylla Shane Gerhana dan Ayu Ira Kurnia Marpaung
 
Pertiwi ibarat metamorfosis kupu-kupu
Tak lengkang dari derita dan airmata
Lusuh tertunduk di sudut lorong penantian
Berkecambuk dengan asa segelintir kehidupan
Perlahan menyusut bukan berkembang
Mati di lesehan pemimpin berkuasa

Pertiwi membangkitkan Garuda
Sabang mengawali Nusantara
Merauke mengakhiri Indonesia
Senandung tercipta dalam pedih tersisa
Mentari gantikan malam di tepi bencana

Ketika pohon-pohon bambu
Mengaayunkan tubuh begitu tinggi
Sedang gemuruh angin tak pernah perduli
Pada wajah malam yang sudah pucat pasi

Jeritan terdengar miris menyayat kalbu
Tertawa dalam kegelapan yang membeku
Putih tak lagi terlihat, kelam
Asap kabut mulai menyelimuti pertiwi
Kau meraung janji hingga kami takut
meringkuk dalam dada Garuda

Ajarkan kami menyongsong hari
Genggam nilai-nilai harapan
Demi menyibak kelam pertiwi
Beri kami bambu runcing berlumur racun duri
Supaya kami asah ujungnya dengan hati

Runcingkan bambu yang kugenggam kuat hingga mati
Biar tetap dalam tangan teguh ini
Biar kami hujam dunia keji sepenuh hati

Tebas ilalang pada ladang pertiwi
Tanam benih-benih kasih sang petuah
Jangan biarkan nyawa melayang bak petasan
Bercucur darah dan peluh setiap gerak nadi

Pertiwi bangkitlah dari tidur panjangmu
Kepakkan lagi sayap garuda
Bambu runcing menanti dengan tajamnya
Siap menusuk hati penyeludup Negeri

Pertiwi teduhmu menjelma hujan
Ketika negeriku terlampau kemarau

Ajarkan kami mendengar
Gemerisik suara dunia luar
Dimana pemenang yang paling liar
Rintih kaum proletar yang jadi fakta nanar

Wahai, guru…
Ajarkan kami membaca
Liukan kelam garis nadi kehidupan
Ajarkan pula cara menulis
Yang tintanya adalah kejujuran
Pena yang sanggup merobek dunia

Kristalkan tinta di ujung masa
Demi sebuah perubahan
Esok telah siap menanti
Perjuangan tegakkan kebenaran yang hakiki

Antara HK dan Tanjung Balai
6 Mei 2012

Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya ya ^_^