Selasa, 26 Juni 2012

FFku di Majalah Frasa "Jembatan Kenangan", 20 Juni 2012

Jembatan Kenangan

"Wow, amazing. Sungguh indah banget suasananya Ros."

"Yups! Kamu benar inilah daerah kelahiranku. Aku sudah sangat merindukannya."

"Aku punya ide brilian, Ros. Tapi..."

"Apa? Kenapa ragu mengatakannya. Come on."

"Hmmm. Aku ingin ini jadi tempat preweeding kita nanti. Aku ingin mengulas secuil keindahan ini untuk melengkapi kebahagian kita nanti."

Airmata mengucur di ujung kelopak mata indah Rosa. Hatinya berdecak kagum dengan pria yang ada dihadapannya. Sungguh ini di luar logikanya. Pria itu menyukai keindahan daerahnya.

"Kenapa menangis? Kau tak setujuhkan dengan usulku. Maaf..." ujarnya lirih.

Aku menubruk kepelukannya. Menumpahkan semua kebahagianyang baru saja dia dengar.

"Aku setuju, Mas. Sangat setuju," ujarku dalam isak tangis.

*

Ake menjerit histeris dan mengacak-acak rambutku. Perasaanku hancvur lebur. Mas Doni telah berpulang ke rumahNya terlebih dahulu. Janji yang sempat terlontar kala itu membuat aku despresi. Bagaimana tidak? Mas Doni, mengalami kecelakaan maut, hingga nyawanya tak tertolong lagi. Saat-saat yang seharusnya akan menjadi kebahagian kami. Jembatan itupun seakan menangisi kepedihanku. Ia telah menjadi saksi bisu saat Mas Doni melamarku.

Kini aku benar-benar gila. Setiap melintas jembatan itu. Aku selalu tertawa, menangis, dan kemudian menjerit histeris. Seakan bumi telah menelan tubuhku dalam-dalam.

Tanjung Balai, 4 Mei 2012

(Terbit di Majalah Frasa, 20 Juni 2012)



Ketika Aku Merindu


Ketika Aku Merindu

Rindu. Ya, hanya itu yang kurasakan saat ini. Rindu mendengarkan suaramu, nyanyianmu, petikan gitarmu, bahkan aku sangat merindukan matamu yang menatap tajam padaku. Perjalanan kisah kita yang dulu sempat terukir perlahan memudar oleh waktu. Kau tahu apa yang kulakukan saat merindukanmu. Aku hanya bisa menangis,menuliskan setiap kalimat rinduku. Mungkin ini cara konyol yang pernah kulakukan sebelumnya. Tapi aku bingung harus melakukan apa lagi untuk menahan rasa rindu ini.

MB, masih ingatkah kau saat kita bermain dibawah airmata langit. Itu suatu hal yang terindah yang akan tetap kuingat sampai kapan pun. Kala itu kita masih kecil, belum mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Yang kita tahu hanya kebersamaan semata. Apa kau juga masih mengingat saat pertama kalinya kita adu mulut saat salah paham? Jujur, aku takut melihat matamu. Tidak ada kedamaian di sana. Aku diam saat kau benar-benar marah. Padahal aku tahu, ini bukan kehendakmu.

MB, kadang aku tersenyum simpul saat mengenang pertama kalinya kau mengungkapkan rasa itu padaku. Aku tercengang saat mendengarnya. Benarkah itu? Hatiku berkecamuk gelisah harus menjawab apa. Akhirnya kau nyanyikan aku sebuah lagu yang sangat kusuka pada waktu itu. So sweet, pujiku dalam hati. Aku luluh dengan nyanyianmu yang begitu menghayati setiap lirik lagu.

Pagi menghadirkanku sebuah airmata kesedihan. Mendengar kabar kau akan meninggalkanku dan kampung halamanmu. Apa yang tlah terjadi padamu? Mengapa begitu cepat kau mengakhiri cerita kita? Pertanyaan hadir mengusik ketenanganku berpikir. Tidak ada tanda-tanda saat kau pergi. Hanya sebuah surat biru yang kugenggam saat kita masih SMP. Ya, hanya itu kenangan nyata yang kupunya.

MB, empat tahun bukan waktu yang singkat buatku menahan semua untaian rindu. Entah mengapa setiap mendengar seseorang menyanyi diiringi oleh petikan gitar. AKu merasa kau hadir di dalamnya. Tersenyum dan menecup mesra keningku. Kuharap rindu ini nyata dan akan segera berakhir dipelukanmu. Aku merindukanmu dan akan tetap merindukanmu.

Minggu, 24 Juni 2012

Nada Kerinduan

Nada Kerinduan 

"Aku masih menunggumu di sini," ucapku lirih dengan butiran bening yang jatuh di sudut kelopak mataku.

Sajakku telah berhenti
Pada aksara yang lelah menemaniku
Hanya untaian kata yang terucap
Dari labiri hati 

"Tasi, kuharap kau cepat kembali dan kita akan sama-sama bercerita tentang rasa yang terabaikan," lanjutku.

Alam terlalu bosan mendengar ocehan rinduku ini. Tapi hanya ini yang dapat kulakukan. Semenjak kepergianmu beberapa tahun yang lalu, aku seperti mayat hidup yang berada di tengah-tengah keramaian. Ilalang hanya bergoyang jikalau beningan kristalku jatuh di atas mereka. Angin terus membawa semua rinduku hingga terurai entah kemana.

"Sudahlah, Nov. Jangan kau tangisin dia. Apa kau tak merasa kasihan melihatnya di sana. Dia pun tersiksa atas apa yang terjadi dengan diri kalian," ujar Ira memegang pundakku.

"Aku yakin dia pasti kembali, Ra. Kami akan memungut kembali serpihan rindu yang berserakan di luar sana," sahutku menatap matanya.

Ira hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturanku. Dia mungkin sudah menganggapku gila, bahkan lebih dari itu. Kadang yang tidak pernah kepikiran olehku apa yang terjadi dengan Tasi. Mengapa ia menghilang tanpa jejak dari kehidupanku. Apa aku melakukan kesalahan yang besar, hingga dia pergi? Batinku menjerit.

"Nov, sebaiknya kau istirahat dulu. Aku khawatir dengan keadaanmu. Jangan pernah menyiksa dirimu sendiri atas apa yang tak pernah kau perbuat."

Ira beranjak ke kamarnya. Meninggalkanku di koridor depan rumah. Aku masih enggan untuk bergeser dari tempat dudukku.

"Tasi, aku akan tetap menunggumu." Ucapku sambil membenamkan wajahku dalam celah kedua kakiku.

*
"Bagaimana kabarmu, Nov? Pasti kamu sekarang lebih dewasa dan cantik," tanyamu ketika itu lewat ponsel.

Pipiku merona, walaupun kau tidak akan tahu itu.

"Baik, Tas. Aku masih seperti dulu kok. Masih acak-acakan, dan nggak akan pernah berubah," jawabku tersipu.

"Aku nggak percaya itu. Aku yakin kau pasti berubah banyak. Nov, ada yang ingin kukatakan padamu. Dan ini serius," ucapmu dari sebrang sana dengan nada yang berbeda.

Aku gusar. Perasaanku kala itu aneh. Belum pernah sebelumnya kau berbicara dengan nada seperti itu. Dan aku yakini itu pasti hal yang serius.

"Nov..."

"Ya. Eh,,, mau ngomong apa tadi," ucapku gagap.

"Hmm."

Hening hanya ada helaan napasmu yang kudengar. Cukup lama.

"Aku mencintaimu, Nov. Sangat mencintaimu. Bahkan sejak kita masih SD dulu, aku sudah menaruh perasaan itu. Aku tau ini mungkin terlalu cepat. Tapi, aku benar-benar mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya."

DEG!!!

Jantungku seperti telah berhenti berdetak. Ada rasa yang aneh mengalir di sekujur badanku. Aneh. ini pertama kalinya Tasi mengungkapkan perasaannya padaku. Selama ini kami seperti anjing dan kucing, tidak pernah akur. Tapi ini, ada apa dengan Tasi.

"Nov..." Panggilmu hati-hati.

"Maaf, Tas."

"Kenapa harus minta maaf, Nov. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah terlalu lancang untuk mencintaimu."

Kudengar ucapanmu kini dengan nada sedih. Aku tidak dapat melihatmu, tapi bisa merasakan suasana hatimu saat ini.

"Aku juga mencintaimu, Tas. Aku juga sudah lama memendam perasaan ini," jawabku akhirnya.

"Benarkah ini yang kudengar. Ini bukan mimpikan."

"Bukan!"

"Makasih, Nov. Aku bahagia sekarang. Walau jarak yang jauh sebagai penghalang kita. Aku yakin kita pasti bisa melewatinya. Sebagai rasa bahagiaku, izinkan aku menyanyikan lagu untukmu."

Tanpa menunggu jawaban dariku. Samar-samar kudengar petikan gitar yang selalu kau mainkan sejak dulu.


Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu

Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku

Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku

 Rasa terharu membuatku menangis tanpa sadar. Lagu Andra and The Backbone dengan lirik "Sempurna" membuatku terhanyut di dalamnya.

"Itu yang kusuka darimu. Suaramu, petikan gitarmu selalu menjadi nayawa dalam hidupku," ucapku dalam hati.

"Makasih Tasi buat semuanya. Lagu yang kau persembahkan untukku.Aku sangat menyukainya," pujiku.

"Iya, sayang. Aku janji akan terus menyanyikannya untukmu. Menemanimu dalam sepi dengan petikan gitarku. Aku selalu mencintaimu. I love you."

"I love you too."

*

"Nov, yuk ikut aku pantai. Mungkin bisa membuat hatimu lebih baik dari sekarang," ajak Ira.

Ira sepupu sekaligus teman curhatku. Dia lebih mengerti aku dengan perasaan rindu pada Tasi. Membiarkan bajunya basah dengan airmataku. 

"Aku lagi malas keluar, Ra," sahutku lesu.

Ira menghempaskan pantatnya di sampingku. Dengan lembut ia mengelus rambutku seperti menghadapi seorang anak kecil.

"Nov, jangan bohongi aku. Dengarkan aku ya, jika kau terus seperti ini yang ada kamu nggak bakal bisa ketemu Tasi. Kamu harus kuat dan tetap semangat. Nanti aku bakalan bantu kamu buat cari dia," bujuknya.

Dengan enggan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhku dan membuat wajah lusuhku secerah langit pagi ini.

*

"Nov, gimana kamu sukakan dengan suasananya. Aku tau kamu bakalan suka. Soalnya siapa yang nggak tau seorang Novi yang maniak biru, suka pantai, dan rela menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk memandang birunya laut," celetuk Ira menggodaku.

Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Aku seharusnya tidak seperti ini, mengabaikan semua usaha Ira untuk membuatku tersenyum dan melupakan sejenak Tasi. Tidak, bukan melupakannya. Hanya membiarkannya sejenak beristirahat dalam pikiranku.

"Ra, bolehkan aku bermain dengan pantai," pintaku seolah-olah Ira adalah orangtuaku.

"Hahaha, kamu ini ada apa sih Nov. Ya sudah sana, ngapain pakai izin segala sih," gelaknya.

Perlahan kulangkahkan kaki telanjangku ke ujung bibir pantai. Menikmati jilatan ombak yang sangat antusias. Sesekali angin laut berhembus menerpa rambut dan menampar wajahku. Aku begitu bersahabat dengannya. Berkali-kali kufokuskan tatapanku pada laut, dan entah kenapa bayangan akan dirimu bermain di sana.

"Taaassiiiiiiii." Pekikku bersama hantaman ombak ke karang.

"Nov, kamu kenapa," tanyanya khawatir denganku.

"Aku benar-benar merindukannya, Ra. Aku nggak bisa melupakannya. Seberapa langkahpun aku menjauh, Tasi selalu hadir dalam bayangan. Ia tersenyum dan mengajakku ke suatu tempat. Aku kangen, Ra..." Ucapku dalam tangis.

"Nov, sabar. Jangan pernah seperti ini. Tasi nggak ada di sini."

"Ra, sampai kapan aku terus sabar seperti ini. Sampai kapan aku aku akan diam tanpa berusaha mencarinya. Aku mencintainya, Ra."

Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan padanya. Dia bungkam dan tidak bisa menjawab satupun pertanyaanku. Ya, itu hal konyol. Mana mungkin dia bisa mengerti semua perasaan yang kuhadapi, tanpa ia merasakannya.

Aku mundur beberapa langkah darinya. Menjauh dan berlari semampuku untuk tidak melihat wajahnya. Aku terlalu muak dengan kata-katanya yang tidak pernah mengerti tentangku.

*
"Nov, aku rasa hubungan kita nggak bersama lagi. Aku takut hubungan kita akan putus di tengah jalan," ucapnya suatu hari.

"Tasi, aku percaya nggak akan ada apa-apa dalam hubungan kita. Aku sayang kamu dan begitu juga sebaliknya. Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan," jawabku datar.

"Nggak, Nov. Kita harus berpisah, jika kita berjodoh aku yakin takdir akan mempertemukan kita. Menyatukan kita kembali."

Aku tertunduk lesu. Harusnya saat ini kita tertawa ria. Kerinduan yang sudah menumpuk pada ruang hati bisa tercurahkan dengan suka cita. Tapi kenapa kau membawa berita buruk. Bahkan lebih buruk dari kematian.

"Maafkan aku, Nov. Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya. Aku nggak mau kau kecewa denganku karena aku nggak bisa membahagiakanmu," lanjutmu kemudian.

*

Pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku

jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih

Kupetik gitar yang sudah lama tidak pernah kujamah. Semenjak kepergian dirimu aku membenci gitar. Malam ini rasa rinduku telah memuncak. Kupaksa jemari untuk memainkannya dan menyanyikan lirik lagu yang sama seperti perasaanku saat ini. 

"Tasi, kuharap lagu ini mampu menyampaikan semua rinduku yang membuatku sesak," lirihku.

Bintang menapaki dinding langit satu persatu ditambah dengan pancaran rembulan yang bersembunyi di belakang awan hitam. Airmata terus bergulir membasahi pipiku. Tanpa memperdulikan ejekan dari rombongan jangrik yang terus bersahut-sahutan mentertawakanku dalam kerinduan.

Malam ini mengajarkanku tentang sepi yang tidak bertuan. Rindu yang terdampar pada alamat yang salah. Apakah aku harus melupakan dia? Melupakan suaranya dan petikan gitar yang selalu menemaninya jikala aku sedih. Memberikanku cawan madu yang disuguhkannya dengan cinta. 

*
"Nov, ada undangan untukmu. Dan aku harap kamu bisa tahan emosinu," tutur Ira.

Aku melonggo dalam kebingungan mendengar ucapannya.Tanganku gemetar saat menerima sebuah kertas biru yang diikat pita dari Ira. 

Lututku serasa lemas, jantungku berdetak tidak beraturan. Rasanya aku ingin mengeluarkan semua isi hatiku sekarang. Kulihat nama yang tertera pada undangan biru itu. Pernikahan Mangatasi Bagariang dengan sahabat SDku dulu, Tya Agum Gumelar. Kucoba menahan butiran hangat yang sudah memaksa untuk keluar. Dan, akhirnya aku tidak sanggup menahannya.

"Ini nggak mungkin. Sejak kapan Tasi menyukai Tya, ini pasti salah. Ini pasti salah," pekikku histeris.

"Nov, aku tadinya nggak percaya. Tapi inilah kenyataannya. Ada secarik surat didalamnya. Kamu harus baca, mungkin ada penjelasan dari Tasi akan hal ini." Ira menenangkanku.

Buru-buru kubuka surat yang ada di dalam. Tanganku gemetar bersama airmata yang menemaniku.

Dear, Novitaku
Jakarta, Maret 2011

Aku harap keadaanmu sama seperti dulu. Selalu ceria, tertawa, dan tersenyum walau luka menggores hatimu. Maafkan aku, Nov. Sejak aku meninggalkanmu hidupku berantakan, aku benar-benar kehilanganmu. Dan kamu tahu, orangtuaku menjodohkan aku dengan Tya teman kita dulu. Keluargaku sudah banyak berhutang budi dengan keluarga Tya, Mau nggak mau aku harus menerimanya.

Nov, aku tau kau pasti kecewa dengan diriku. Kau pantas mengumpat bahkan menghujatku, jika itu membuatmu lega. Nov, aku menunggumu di sini. Aku ingin melihat wajahmu terakhir kalinya. Kuharap kau datang.

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku


Sebait lagu yang pernah kunyanyikan untukmu pertama kalinya. Aku akan selalu mencintaimu walau tak seperti dulu. Namamu masih ada di sini, hatiku. I love you.

Orang yang mencintaimu
Tasi

"Kau penipu, Tas. Kau hancurkan perasaanku. Kau bajingan!" Jeritku memuncak.

Kuremas surat yang baru saja kubaca. Kulempar hingga aku benar-benar merasa terpukul. Harapanku untuk menebus semua kerinduan ini telah hancur tidak berbalas. Tasi benar-benar sudah melupakan cinta yang pernah diucapkannya. Aku terlalu bodoh menunggu lelaki yang tidak pantas untuk kutunggu.

*

Ira menatap iba padaku. Setiap mendengar semua lagu tentang rindu, aku selalu menjerit histeris ketakutan. Lari ke sudut, mendekap kakiku rapat-rapat, dan seperti orang linglung. Sejak peristiwa itu, aku sudah dinyatakan gila oleh pihak rumah sakit yang merawatku. Hanya Ira yang masih setia menjagaku. Walau terkadang ia menjadi objek utamaku untuk melampiaskan sesuatu yang kadang datang menghantuiku.

Menangis aku kenang
Saat hatiku kau tinggalkan
Hanya sakit yang aku pendam
Dalam rindu yang semakin dalam
Tak tahu harus dimana ku temukan jawabnya

Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya


Kekasih kau yang ku kenang
Jatuhkanku dalam lingkaran
Walau sakit yang aku pendam
Rindu ini tak kunjung padam
Tak tahu harus dimana ku temukan ooh


Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya


Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya


Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Sampai nanti selalu bertanya


Tanjung Balai, 25 Juni 2012
09.11






Jumat, 22 Juni 2012

Jumat CENDOL, 22 Juli 2012 "Menulis Surefalis"




Jum'at kemaren seharusnya aku ikutan jam pelajaran yang ada di Kelas Cendol. Tapi jujur aku nggak ngerti. Apa karena pelajarannya begitu berat (menurutku) ya? Entahlah, untungnya setelah izin copas. Aku bisa belajar melalui komen dan jawaban dari Sukernya. Semoga ini membantuku untuk bisa belajar.

JUMAT CENDOL 22 JULI 2012: MENULIS SUREALIS
MENULIS SUREALIS
Agus Linduaji

Wanita itu melahirkan burung gagak, seorang pengemis terus berdiri di pinggir jalan sampai menjadi patung, gadis kecil itu berubah menjadi kupu-kupu. Dan cerita-cerita liar lainnya yang tentunya membuat para pembaca merasa bahwa cerita tersebut tidak masuk akal.

Inilah surealis, sebuah gerakan (termasuk dalam sastra) yang pada awalnya lahir dari dunia mimipi dan alam bawah sadar. Maka tak heran karya surealis selalu menghadirkan cerita-cerita yang aneh, ganjil dan irasional.
Pada perkembangannya kini karya surealis tidak sekedar ruang interpretasi mimpi semata, namun sudah menjadi ruang bagi penulis untuk mengkritisi apa yang memang patut untuk dikritisi. Surealis yang dulu menghadirkan mimpi apa adanya, dan mengalir spontan tanpa aturan, kini hadir dengan makna baru, karena dianggap sebagai bentuk gugatan, ejekan atau protes terhadap realitas yang kadang terasa tidak masuk akal. Surealis menjadi bentuk pembrontakan terhadap kenyataan hidup yang penuh kepalsuan hingga titik paling nista.


Pada cerpen saya yang berjudul Mata  (antologi Suker), saya mencoba mencemooh sebuah intansi yang melakukan jamaah korupsi dengan mengadirkan tokoh-tokohnya selruh matanya berubah menjadi putih karena perbuatannya.
Sering kita melihat peristiwa yang menyayat hati, kisah yang memilukan dan kenyataan yang tragis: Di bawah himpitan ekonomi sang ibu membuang bayi, ayah menjual anak gadisnya, mutilasi demi seratus ribu rupiah sementara para pejabat berpesta pora.
Mungkin ini yang mau dikatakan surealis sekarang, bahwa realita terkadang yang justru lebih tidak masuk akal.
Mari kita belajar berjamaah! Tidak sekedar mengenai menulis fiksi, tapi juga bagaimana kita menyampaikan sikap dan pandangan di dalam karya sastra.

Salam,
Dab Lindu

* Surealisme, adalah sebuah aliran seni dan kesusastraan yang menjelajahi dan merayakan alam mimpi dan pikiran bawah sadar melalui penciptaan karya visual, puisi, dan film. Surealisme diluncurkan secara resmi di Paris, Perancis, pada tahun 1924, ketika penulis Perancis Andre Breton menulis manifesto pertama surealisme, mengguratkan ambisi-ambisi akan kelahiran gerakan baru. (Breton menuliskan dua lagi manifesto surealis, pada tahun 1930 dan 1942). Gerakan tersebut segera menyebar ke wilayah lain di Eropa, juga ke wilayah Amerika Utara dan Selatan. Di antara kontribusi-kontribusi yang paling penting dari gerakan surealis adalah penemuan teknik artistik baru yang terhubung ke alam pikiran bawah sadar seniman.

 Agus Linduaji Tulisan di atas adalah dari sudut pandang penulis, jadi sangatlah sempit dan sangat mungkin salah , mari kita diskusikan bersama

 Paulus Nugroho TANYA : jika dalam dunia seni lukis dari antara sekian jenis aliran ada aliran Surealis yang juga hampir mendekati aliran Abstrak,
apakah di dalam kepenulisan juga ada tulisan yang beraliran Abstrak?

dalam artian, adakah jenis tulisan yang lebih membutuhkan pemahaman yang lebih daripada pemahaman pada jenis tulisan Surealis?

*pertanyaan ini mungkin terasa agak ngawur dan banyolan (lawakan, komedi), namun sungguh bahwa saya ingin bertanya seperti ini dengan maksud serius, terima kasih :)


 Bintang Kirana TANYA :

Jadi ... bolehkah menelorkan karya yang sulit dipahami pembaca, Om Suker Agus Linduaji ?


 Agus Linduaji ‎Bintang Kirana Sah-sah saja menulis yang susah dipahami pembaca, tapi bukankah menulis itu untuk dinikmati pembaca , Surealis mungkin terasa aneh bagi pembaca, namun harus bisa dimengerti arah tulisan itu

 Agus Linduaji Surealis awalnya lahir dari mimpi dan Fantasy lahir dari kayalan seseorang , bedakan sendiri.

 Suhe Herman Surealis awalnya lahir dari mimpi dan Fantasy lahir dari kayalan seseorang , bedakan sendiri

Kalo dianalogikan, Surealis itu sendawa dan fantasy itu tawa. Maksud saya, surealis itu lebih apa adanya dan jujur, tapi kalo fantasy lebih mikir dan diada-adakan. Apa analogi saya bener, Om?

*sangat suka materi ini karena saya adalah batu


 Ayya Perempuan Fikri ‎*
beberapa waktu lalu sempat berbincang tentang surealisme dengan penulis puisi surealis,
rasanya memang lebih mudah memahami surealisme dalam karya lukis, contoh cerita yang diberikan pada saya kisah "Tom and Jerry"
mereka terlindas mobil tapi tidak terluka atau mati.
jika cerita itu dialihkan kedalam bahasa, apakah cara berceritanya juga sama?


 Agus Linduaji ‎Ayya Perempuan Fikri benar lebih mudah menvisualkan dari pada menulis

 Agus Linduaji Aku udah manasin mobil siap pergi akulurusin masalah mimpi dulu. Terkadang kita mimpi sangat jelas, nyata tetapi kadang kita mimpi terasa aneh, seperti misal aku mimpi membunuh seseorang dengan pedang yang terbuat dari selembar koran, aneh mimpiku, jadi tidak semua mimpi mendasari Suealis, pamit nanti nalan kita lanjutin ok teman

 Paulus Nugroho KOMEN : Titis Nariyah aku memang baru sedikit baca karya Djenar, tapi menurutku sepertinya Djenar memang mengarah ke aliran Surealis, banyak yang kurang bisa dipahami jika hanya membaca dengan 'sekedar membaca' karya-karya Djenar :)

*keinget pusingnya baca buku kumcer Djenar yang kalau tidak salah berjudul 'hati-hati dengan kelaminmu', pinjam dari S-Rio Zendi :D


 Paulus Nugroho

KOMEN :

"Surealis awalnya lahir dari mimpi dan Fantasy lahir dari khayalan seseorang" Agus Linduaji

tanpa maksud ingin menggurui,
menurut pemahaman saya adalah begini,
dalam mimpi kita masih bisa mengesampingkan logika bahkan mencampuradukan logika,
namun dalam khayalan kita masih harus menimbang ide kita dengan logika.
walaupun dalam perwujudan keduanya (surealis dan fantasi) tetaplah tidak boleh mengesampingkan unsur-unsur logis, dalam artian kita harus tetap menjaga agar karya kita tetaplah harus bisa dimengerti si penikmat karya kita, walaupun itu akan sedikit sulit bagi mereka :)

*singakatnya begini, jika tidak sulit dipahami, maka itu bukanlah 'surealis' :D

*pendapat ini saya buat dari sisi kacamata seni lukis yang sempat saya jalani beberapa tahun lalu :) agak susah jika dituliskan lewat kata-kata namun semoga bisa membantu Bunda Arniyati Shaleh, Mbak Widi Astuti, dan segenap Cendolers lainnya :)

 Pringadi Abdi Surya
Orang kadang mencampuradukkan surealis dengan fantasi. Berbeda. Surealis dibangun dari bawah sadar. Dan bawah sadar bisa jadi dibangun dari kealpaan kesadaran dan atau terbatasnya kesadaran itu sendiri.

Pernyataan pertama yang diamini adalah tentang materialisme, bahwa sifat api=panas itu karena pengalaman indrawi. Bahwa tikus tidak bisa berbicara juga indrawi. Hal-hal yang di luar indra adalah mungkin. Sehingga surealis bukan berarti tidak realis. Surealis adalah kesadaran antara: abu-abu. Ia dibangun juga dengan logika yang kuat. Sehingga pertanyaan mengapa, epistemologisnya, ada.

Pernyataan kedua, menulis surealis dalam hemat saya, harus memenuhi dua syarat: pengetahuan dan imajinasi.

itu saja kali ya :D
 Dela BungaVenus pengetahuan dan imajinasi. bener!^^
sulit membuat cerita surealis. perlu sudut pandang yang ga biasa. out of the box. perlu cerdas dulu....^^
 Tri Lego Indah Full ‎|
Yang ini mas Agus Linduaji
Tri Lego Indah Full |
Mas Agus Linduaji, di cerita MATA yang mas Agus tulis masih bisa ditangkap maksudnya bagi pembacanya, tapi kalau yang cerpennya mas Agus Noor yang judulnya Ibuku Anjing itu, harus baca berkali-kali. Lemah dengan simbol-simbol >,<, Oya, apakah memang kebanyakan tulisan surealis ditulis dengan bahasa terkesan liar gitukah mas? (baca ulang Ibuku Anjing)
8 hours ago · LikeUnlike · 1
 Agus Linduaji Aku baca sekali sudah bisa menangkap , mungkin aku sudah cukup lama bergaul sama penulisnya , jadi ibarat dia menendang bola udah tau arahnya, memang kebanyakan terkesan liar jadi artinya tidak semua kan

 Pringadi Abdi Surya
Buat mbak Tri Lego, saya coba mendefinisikan liar itu. Kesadaran seringkali membatasi diri kita pada suatu definisi, pada suatu wilayah, dan wilayah itu didobrak oleh surealisme. Bahasa yang keluar, adalah bahasa apa adanya, bahasa lugas, bahasa-bahasa yang kadang tak mampu diucapkan kesadaran.

Ada juga penulis surealisme yang mencapai tingkatan "menciptakan represi sekaligus supresi". Dingin tapi sebenarnya penuh muatan emosi, tapi tidak ada kata-kata yang eksplosif. Di dalam realisme, boleh nama hanna fransisca jadi referensi untuk tingkatan ini.


Komentar Pembaca "When I Miss You"

 Komentar Para Pembaca When...I Miss You

 

Ini adalah para pembaca dari buku When...I Miss You. Bagaimana mereka mengapresiasikan setiap cerita yang mereka nikmati. Simak dan pahami.

Dan jangan lupa buat teman-teman juga memiliki buku ini. Nggak bakal rugi deh ^_^

Buku yang berjudul When I Miss U ini telah mampir sejak hari selasa minggu ini. Karena saya 'tepar' waktu itu, jadi baru malam ini bisa mengunggahnya.
Memaparkan beragam cerpen, puisi, dan kata mutiara yang bertemakan rindu.

Diawali dengan beberapa cerpen yang mengunggah, salah satunya yang ku kenal ialah karya Endang Ssn. Lagi-lagi wanita senja ini menyihir pembaca dengan kata-kata rindunya. Cerpen-cerpen lainnya pun seperti pukulan yang menghentak, tapi berasal dari alat yang berbeda. Sehingga, menghasilkan irama rindu berbeda pula. Namun, tetap harmoni.

Beberapa puisinya pun, tak bisa dilewatkan begitu saja. Sebab, banyak sekali nama-nama yang sudah nampang di beberapa media. Tentu, tak usah diragukan lagi hasil karya mereka.

Hingga yang terakhir ialah kata-kata mutiara hasil sendiri dari beberapa penulis. Ini membawa khasanah tersendiri. Semacam buah dari perenungan tentang rasa 'rindu' itu sendiri.

Tak usah banyak paparan lagi, sebaiknya segera pesan melalui Kamal Agusta sekarang juga. (Ben Santoso)



 Kontributor & Buku When ... I Miss You

"Ketika hati terasa meredam rasa, sesuatu yang menghentak-hentak kalbu dan rasa sunyi yang tiba-tiba membekukan hati. Kuyakin ada sebentuk hati yang tengah sama merasakan. Rasa rindu ini kuyakin akan menguatkan kita untuk tetap menjaga janji suci saat kesetiaan teruji. Kularutkan rasa rindu ini dalam doa-doa malam panjangku ketika kuhanya bisa berbisik dengan-Nya."

Nenny Makmun



" Ceritanya benar-benar bikin rindu. Adanya beberapa halaman yang berisi puisi dan kata mutiara itu ngebantu aku belajar atau sekedar tahu bagaimana menyusun kata-kata yang baik. Sayangnya, buku kurang tebal, jadi bacanya harus pelan-pelan agar rasa 'miss-nya' nggak cepat habis."

Anto Mertabesari, Karyawan.












Sebuah rindu yang di kemas dengan apik.. menarik dan menimbulkan rasa rindu untuk membaca karya-karya kalian lagi.. 

Febri Wulandari















 Giliran siapa nanti yang fhotonya akan nampang diblog ini. Buruan miliki bukunya dan tulis ceritanya. Masih ditunggu ^_^ Hihihihih