Mimpi akan membawamu pada impian. Jangan takut untuk bermimpi. Semoga blog ini benar-benar menginspirasi pembaca
Jumat, 18 Oktober 2013
Masih Tentangmu
Aku masih mengharapkanmu. Terlalu bodoh untuk waktu bertahun-tahun lamanya. Inilah kenyataannya. Dirimu terlalu sulit dilupakan walau sedetik.
Jumat, 16 Agustus 2013
Lebaran Tanpa Ayah - Event LeutikaPrio
Lebaran Tanpa Ayah
Malam itu telah datang
Membawa sejuta senyum dari surgaNya
Aku terlelap
Berharap
jemari kekarmu meraihku
Airmata
yang terus menghujam ketika hari kemenangan itu tiba. Aku merindukan sosoknya.
Sosok yang ingin kutatap, kupeluk, bahkan aku ingin bermanja di atas
pangkuannya, Ayah. Entah berapa kali lebaran, aku selalu bersama Ibu dan
keluarga lainnya. Tak pernah kutemui Ayah di dalam kebahagian kami. Aku tersudut.
Kadang aku merasa Allah tak adil dalam hidupku. Ah, lagi-lagi aku hanya remaja
polos yang haus akan rasa sayang dari Ayah.
“Nak,
kok malah melamun? Lihat tuh teman-temannya pada pergi takbiran,” teguran
lembut Ibu membuyarkan lamunanku tentang Ayah. Ada panas yang menggantung di
ujung kelopak mataku. Tidak! Aku tak ingin Ibu melihat kesedihanku.
“Bentar
lagi, Bu. Lagian belum ada yang jemput kok,” sahutku berusaha tegar. Ya, hanya
itu satu-satunya cara mengelabui Ibu.
Sepeninggal
Ibu, aku melihat foto Ayah bersama Kakek. Benda hangat itu akhirnya keluar
tanpa perintahku. Ayah, aku rindu kamu. Ya
Allah, kutitipkan setetes rindu untuknya.
“Kalau
belum pergi, sebaiknya zakat dulu. Nanti kamunya kelupaan,” suara Ibu di balik
dapur mengingatkanku. Aku mengangguk meski Ibu tak melihatku.
Meski
di luar masih hujan, kukeluarkan sepeda motor. Membawa bungkusan hitam yang
berisi zakat. Tak peduli dingin yang terus menusuk tulangku, kuperlambat laju
sepeda motor yang kubawa. Di depan rumah yang begitu sederhana, kumatikan
sepeda motor. Mengetuk pelan pintu rumah tanpa alat penerangan seperti lainnya.
Hatiku
terenyuh saat pemilik rumah membukakan pintunya. Aku melihat kebahagianku di
sana. Keluarga lengkap. Ada Ayah, Ibu, anak-anak yang lucu. Ah, kapan aku seperti mereka? Kapan aku
benar-benar memiliki sosok Ayah? Kapan aku…? Tak seharusnya aku selalu
mempertanyakannya. Jawabannya sudah jelas di mataku. Aku tak akan bertemu
dengannya, kecuali kematian mempertemukan kami.
“Masuk,
Nak,” ucap perempuan setengah baya itu mengagetkanku.
Buru-buru
kesembunyikan wajah iriku padanya. Bergegas membayar zakat, seperti apa yang
kuniatkan tadi. Tanpa menunggu lama, aku pamit pulang. Aku takut perasaanku tak
terkendali melihat kebahagian mereka.
Gerimis
masih menikamku. Kuputar arah untuk menuju tempat yang kurasa paling nyaman
untuk menyendiri.
Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil – hamd
Gema takbir di mana-mana.
Aku tertunduk lesu. Tak kuhiraukan hiruk pikuknya kota yang mulai ramai
dipadati kendaraan bermotor. Tak peduli gerimis, semuanya larut dalam
kemenangan dalam sebulan Ramadhan, kecuali aku.
*
“Bu, aku minta maaf lahir
batin. Jika selama ini aku selalu menyusahkan Ibu, buat Ibu marah dan kecewa.
Maaf juga Bu, aku belum bisa beri kebahagian seperti yang Ibu berikan padaku.
Di bulan Syawal ini, aku ingin Ibu memaafkan semua kesalahanku,” sungkemku seusai
pulang shalat Id.
Kurasakan tubuh Ibu
bergetar. Aku tahu, pasti Ibu menangis. Ibu pasti sedih. Semua anak-anaknya
merantau dan tak ada yang kembali, kecuali aku. Tanpa kusadari, Ibu memelukku.
Airmatanya membasahi jilbab yang kukenakan. Dadaku sesak. Maafkan aku Ibu,
yang selalu mempertanyakan Ayah. Aku tahu, aku anak yang egois, ucapku
dalam hati.
Ibu melepaskan
pelukannya. Tak ada satu katapun yang terucap. Matanya mengisyaratkan
kebahagian dan kesedihannya yang begitu dalam. Entah apa itu. Aku sendiri tak
tahu. Ibu beranjak dari duduknya. Aku melangkah ke dapur. Di sana sudah tersaji
lontong sayur khas lebaran, ketupat, kue lebaran, dan masih banyak lainnya.
Aku duduk di daun jendela
kamar. Menatap lekat foto yang ada digenggaman tanganku. Ayah, lebaran ini
masih sama. Sepi. Sampai kapan hatiku terus menolak kepergianmu. Aku belum
ikhlas. Ayah, kapan lebaran ini terasa lengkap dengan hadirmu? Apa setiap
lebaran aku hanya bisa melihat fotomu? Melihat kebisuan yang ada. Ayah, lebaran
akan selalu sepi, meski beribu akan jutaan kebahagian ada di sini. Ayah, aku
merindukanmu
“Tulisan ini
diikutkan dalam Tjerita Hari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio.”
Senin, 22 Juli 2013
CERIA (Cerita Ayu) 3
*Sambungan*
Sementara Nia mencoret-coret bukunya. Ia kesal setengah hidup. Bisa-bisanya Nizar tak paham dengan situasi ini.
"Lo ngambek sama gue? Huh! Baru cowok kayak gitu aja lo udah ngambek segala," sosor Nizar tiba-tiba.
Nia masih diam. Ia pura-pura tuli biar Nizar kesal dan pergi dari hadapannya. Namun, usahanya gagal. Nizar tetap saja ngerocos panjang lebar tanpa mikir kalau di depan banyak tikungan tajam.
"Mending lo cari cowok yang lebih baik aja deh daripada si Joe itu," usul Nizar.
"Emang lo pikir Joe itu anak ilang apa main cari-cari aja. Kenapa? Lo juga naksir sama dia. Hm... pantesan aja tadi langsung lengket kayak perangko," sahut Nia sinis.
"Jiaaahh, gue cemburu sama lo karena Joe. Nggak banget deh! Lo belum tau sih Joe kayak apa. Gini aja deh, daripada lo nuduh gue yang nggak-nggak, mending sekarang lo liat kelakuan si Joe," tarik Nizar paksa. Nia hampir saja jatuh tersungkur lagi. Nizar tak peduli. Nizar mirip orang yang tak sabar melihat harta karun.
"Tuh, liat!" tunjuk Nizar saat sampai di TKP.
Deg! Nia hampir saja jatuh pingsan melihat sang pujaan hatinya. Mulutnya menganga lebar, untung saja tak ada satu lebahpun atau lalat yang lewat. Kalau airmatanya jangan ditanya, Nizar sampai rela nampung airmatanya pakai baskom. Ngeri amat ya.
"Zar, gue nggak mimpi, kan?"
"Ih,lo bego atau bloon sih Nia. Jelas lo nggak tidur. Emang ada gitu tidur sambil jalan, kecuali lo tidur sambil ngigo."
Nia mempertajam penglihatannya setajam silet. Memastikan kalau yang dilihatnya benar-benar Joe, bukan orang yang mirip Joe atau kebetulan mirip.
"Astaga Joe, beneran gue nggak percaya.Ternyata lo..." Nia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Makanya gue selaku penulis yang melanjutkannya. Ternyata Joe seorang homo, dan memilih mencintai sesama jenis dibanding lawan jenisnya.
*END*
Sementara Nia mencoret-coret bukunya. Ia kesal setengah hidup. Bisa-bisanya Nizar tak paham dengan situasi ini.
"Lo ngambek sama gue? Huh! Baru cowok kayak gitu aja lo udah ngambek segala," sosor Nizar tiba-tiba.
Nia masih diam. Ia pura-pura tuli biar Nizar kesal dan pergi dari hadapannya. Namun, usahanya gagal. Nizar tetap saja ngerocos panjang lebar tanpa mikir kalau di depan banyak tikungan tajam.
"Mending lo cari cowok yang lebih baik aja deh daripada si Joe itu," usul Nizar.
"Emang lo pikir Joe itu anak ilang apa main cari-cari aja. Kenapa? Lo juga naksir sama dia. Hm... pantesan aja tadi langsung lengket kayak perangko," sahut Nia sinis.
"Jiaaahh, gue cemburu sama lo karena Joe. Nggak banget deh! Lo belum tau sih Joe kayak apa. Gini aja deh, daripada lo nuduh gue yang nggak-nggak, mending sekarang lo liat kelakuan si Joe," tarik Nizar paksa. Nia hampir saja jatuh tersungkur lagi. Nizar tak peduli. Nizar mirip orang yang tak sabar melihat harta karun.
"Tuh, liat!" tunjuk Nizar saat sampai di TKP.
Deg! Nia hampir saja jatuh pingsan melihat sang pujaan hatinya. Mulutnya menganga lebar, untung saja tak ada satu lebahpun atau lalat yang lewat. Kalau airmatanya jangan ditanya, Nizar sampai rela nampung airmatanya pakai baskom. Ngeri amat ya.
"Zar, gue nggak mimpi, kan?"
"Ih,lo bego atau bloon sih Nia. Jelas lo nggak tidur. Emang ada gitu tidur sambil jalan, kecuali lo tidur sambil ngigo."
Nia mempertajam penglihatannya setajam silet. Memastikan kalau yang dilihatnya benar-benar Joe, bukan orang yang mirip Joe atau kebetulan mirip.
"Astaga Joe, beneran gue nggak percaya.Ternyata lo..." Nia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Makanya gue selaku penulis yang melanjutkannya. Ternyata Joe seorang homo, dan memilih mencintai sesama jenis dibanding lawan jenisnya.
*END*
Jumat, 19 Juli 2013
CERIA (Cerita Ayu) 2
Malu! Malu! Malu. Cuma itu yang terlintas saat kejadian siang tadi.
Oke, sebut aja pelakunya Nia, cewek pendiam tapi menghanyutkan. Dan si
cowok, panggil aja Joe.
"Kok bisa sih, lo jatuh samapi idungmu tambah mancung ke dalam," ledek Nizar.
"Huh! Dasar gotik. Ini mah udah dari sononya. Namanya juga curi-curi pandang. Gak mungkin kali aku lambai-lambai tangan sambil bilang miss u," sahut Nia kesal. Hampir saja lupa. Kenapa Nizar disebut gotik, pasti udah pada tahu jawabannya. Hihihi....
"Halah, alasan aja lo. Kalo naksir tinggal tembak aja susah amat. Emang sampe kapan lo mau jatuh bangun kayak gini cuma liat tampangnya. Mau sampe idung lo bener-bener nyungsep," lagi-lagi Nizar meledeknya.
"Sewot amat sih. Suka-suka gue dong. Mata-mata gue," balas Nia tak mau kalah.
Kalau udah gini bakalan ada perang dunia kesekian. Nggak bisa disebutin soalnya mereka udah acap kali perangnya, alias perang mulut.
"Gosipin gue ya..." Nia hampir saja kejang-kejang lihat sang pujaan hati nyamperin dia. Untung saja Nizar udah siapin benteng untuk itu.
"Pede amat digosipin. Si amat aja yang digosipin cuma diam," balas Nizar ngaco.
"Lo lucu banget sih. Gemesin tau."
Lucu! Gemesin! Nia terbakar cemburu. Kok bisa-bisanya Joe bilang Nizar lucu dan gemesin, padahal mendekati kata itu aja jauh banget. Sangking cembururnya, Nia nggak sadar kalau bibirnya udah monyong mirip Omas.
"Kenapa tuh bibir?" tanya Joe polos.
"Bodo! Gue balik dulu. Gerah banget di sini," jawabnya ngasal.
Joe bengong. Nggak biasanya Nia secuek ini. Pasti ada yang gak beres, guman Joe lirih.
"Zar, lo tau Nia kenapa? Apa gue ada salah ya?"
"Iya! Salah lo banyak amat." Lagi-lagi amat terus membanjiri kalimat Nizar.
"Loh, gue salah apa coba?"
"Mau tau aja atau mau tau banget nih," goda Nizar.
"Lo kepo banget sih. Tinggal kasih tau aja pake goda-goda gue segala."
"Idih, malah marah. Oke! Oke! Sebagai teman yang baik gue kasih tau nih. Salah lo itu sebenarnya cuma satu. Tapi dari satu berakar jadi dua, tiga, empat, sampai seterusnya."
"Rumit banget penjelasan lo. Udah mirip ngafal rumus fisika aja." Joe menggaruk kepalanya yang peuh ketombe.
"Hihi... Sori. Nia suka sama lo. Sangking sukanya dia sering jatuh gara-gara lo, kejedot tembok buat liat lo, yang lebih parahnya dia sampe kejebut got hanya liat lo. Parah banget, kan?"
"OMG! Segitunya..."
"Lo gimana sih, gue capek-capek cerita komennya cuma OMG. Gila! Masak iya teman gue naksir cowok yang tulalit kayak lo," serang Nizar blak-blakan.
Joe yang tadinya penasaran sekarang malah panas dingin. Gini nih, kalau ada cewek yangg naksir dia. Apalagi cewek itu Nia, teman sekolahnya yang paling jutek sama cowok. Melihat kondisi Joe, Nizar malah panik. Segala jenis obat tak ampuh.
"Dari pada gue disuruh jadi saksi, mending gue kabur dah."
*bersambung*
"Kok bisa sih, lo jatuh samapi idungmu tambah mancung ke dalam," ledek Nizar.
"Huh! Dasar gotik. Ini mah udah dari sononya. Namanya juga curi-curi pandang. Gak mungkin kali aku lambai-lambai tangan sambil bilang miss u," sahut Nia kesal. Hampir saja lupa. Kenapa Nizar disebut gotik, pasti udah pada tahu jawabannya. Hihihi....
"Halah, alasan aja lo. Kalo naksir tinggal tembak aja susah amat. Emang sampe kapan lo mau jatuh bangun kayak gini cuma liat tampangnya. Mau sampe idung lo bener-bener nyungsep," lagi-lagi Nizar meledeknya.
"Sewot amat sih. Suka-suka gue dong. Mata-mata gue," balas Nia tak mau kalah.
Kalau udah gini bakalan ada perang dunia kesekian. Nggak bisa disebutin soalnya mereka udah acap kali perangnya, alias perang mulut.
"Gosipin gue ya..." Nia hampir saja kejang-kejang lihat sang pujaan hati nyamperin dia. Untung saja Nizar udah siapin benteng untuk itu.
"Pede amat digosipin. Si amat aja yang digosipin cuma diam," balas Nizar ngaco.
"Lo lucu banget sih. Gemesin tau."
Lucu! Gemesin! Nia terbakar cemburu. Kok bisa-bisanya Joe bilang Nizar lucu dan gemesin, padahal mendekati kata itu aja jauh banget. Sangking cembururnya, Nia nggak sadar kalau bibirnya udah monyong mirip Omas.
"Kenapa tuh bibir?" tanya Joe polos.
"Bodo! Gue balik dulu. Gerah banget di sini," jawabnya ngasal.
Joe bengong. Nggak biasanya Nia secuek ini. Pasti ada yang gak beres, guman Joe lirih.
"Zar, lo tau Nia kenapa? Apa gue ada salah ya?"
"Iya! Salah lo banyak amat." Lagi-lagi amat terus membanjiri kalimat Nizar.
"Loh, gue salah apa coba?"
"Mau tau aja atau mau tau banget nih," goda Nizar.
"Lo kepo banget sih. Tinggal kasih tau aja pake goda-goda gue segala."
"Idih, malah marah. Oke! Oke! Sebagai teman yang baik gue kasih tau nih. Salah lo itu sebenarnya cuma satu. Tapi dari satu berakar jadi dua, tiga, empat, sampai seterusnya."
"Rumit banget penjelasan lo. Udah mirip ngafal rumus fisika aja." Joe menggaruk kepalanya yang peuh ketombe.
"Hihi... Sori. Nia suka sama lo. Sangking sukanya dia sering jatuh gara-gara lo, kejedot tembok buat liat lo, yang lebih parahnya dia sampe kejebut got hanya liat lo. Parah banget, kan?"
"OMG! Segitunya..."
"Lo gimana sih, gue capek-capek cerita komennya cuma OMG. Gila! Masak iya teman gue naksir cowok yang tulalit kayak lo," serang Nizar blak-blakan.
Joe yang tadinya penasaran sekarang malah panas dingin. Gini nih, kalau ada cewek yangg naksir dia. Apalagi cewek itu Nia, teman sekolahnya yang paling jutek sama cowok. Melihat kondisi Joe, Nizar malah panik. Segala jenis obat tak ampuh.
"Dari pada gue disuruh jadi saksi, mending gue kabur dah."
*bersambung*
Puisi Sederhana Terbit di Radar Seni
Alhamdulillah, Ramadhan ini ada puisi sederhana yang dimuat di Radar Seni edisi 14 Juli 2013.
Selamat membaca ^_^
Stt… Pertiwi Sedang Tidur
Ranting kejujuran telah patah dari dahan
meninggalkan bekas tanpa jejak
Daun kehidupan kering; terbawa angin
berhenti pada titik kejenuhan
Akar kian tua, tak mampu menopang tubuhnya
Langit menangis
Bumi merajuk
Stt… Pertiwi sedang tidur
Terlelap dalam buai nyanyian kosong
Lalu, biarkan tangantangan kotor merusak isinya
Bebaskan tikus lalulalang
Hening…
Tinggal mimpi tak lagi nyata
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Perempuan Senja dan Lelaki Hujan
Aroma hujan bangkitkan gairah laut
bergemuruh menantang biru ke peraduan
Karang menjerit malafal mantra
Hadirkan senja pada kesunyian
Aku meringkuk; perempuan senja
Mencium basah di ujung jingga
Kau; lelaki hujan
Ciptakan tujuh warna menutupiku
Adalah kita satu raga
Ketika kau pergi, aku datang menunggu
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Lantunan Doa Untuk Ayah
Pagi ini fajar lebih dulu mengecup embun
Tak lupa belaian angin menyapa dedaunan
Rumah-Mu masih terlihat hening dan sepi
Hanya sesekali terdengar kicau burung merdu hilir mudik
Perlahan lututku bersandar pada gundukan tanah merah
Tanpa sadar beningan kristal lahir dari kelopak mata
Bibir terasa kelu melantunkan baris tiap baris do’a
Mataku sayu dengan tatapan nanar
Kutatap lagi puisi yang tertulis
Untuk menyampaikan seutas rindu dan cinta
Dalam sajak tak bergema
Kulantunkan kembali do’a untukmu
Tanjung Balai, 29 Mei 2013
Tentang Hati
Kegoisan saat nafsu terlalu memburu
Mengalahkan logika ; berimbas cemburu
Menyerupai belati menuai luka
Adalah kelembutan saat tersentuh rasa cinta
Tenang ; memeluk hangat meski dingin membeku
Adalah globe makhluk Ilahi
Hitam putih perjalanan hidup
Misteri ketika mata tertutup
Tanjung Balai, 6 Juli 2013
Sepotong Rindu
Tak ubah empedu
Tak lengkang oleh waktu
Hadirkan sepotong rindu dalam pagi menjelma
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Ayu Ira Kurnia Marpaung nama lengkap dari penulis. Beberapa karyanya berupa artikel, puisi dan cerpen pernah dimuat di Tabloid Gaul, Medan Bisnis, Batak Pos, Harian Waspada, C-Magz, Majalah Kiss, Asahan Post, Majalah Liberty, dan Majalah Frasa Online.
Aktif di dunia Kepenulisan Online Cendol dan Cermat untuk Wilayahnya. Jika ingin menyapanya lebih dekat dapat Add akun facebooknya di Ayuslalu43@yahoo.co.id atau twitter @AyuIraKurnia1.
Untuk lihat lebih lanjut silakan klik linknya. :)
http://radarseni.com/2013/07/14/ayu-ira-kurnia-marpaung/
Selamat membaca ^_^
Stt… Pertiwi Sedang Tidur
Ranting kejujuran telah patah dari dahan
meninggalkan bekas tanpa jejak
Daun kehidupan kering; terbawa angin
berhenti pada titik kejenuhan
Akar kian tua, tak mampu menopang tubuhnya
Langit menangis
Bumi merajuk
Stt… Pertiwi sedang tidur
Terlelap dalam buai nyanyian kosong
Lalu, biarkan tangantangan kotor merusak isinya
Bebaskan tikus lalulalang
Hening…
Tinggal mimpi tak lagi nyata
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Perempuan Senja dan Lelaki Hujan
Aroma hujan bangkitkan gairah laut
bergemuruh menantang biru ke peraduan
Karang menjerit malafal mantra
Hadirkan senja pada kesunyian
Aku meringkuk; perempuan senja
Mencium basah di ujung jingga
Kau; lelaki hujan
Ciptakan tujuh warna menutupiku
Adalah kita satu raga
Ketika kau pergi, aku datang menunggu
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Lantunan Doa Untuk Ayah
Pagi ini fajar lebih dulu mengecup embun
Tak lupa belaian angin menyapa dedaunan
Rumah-Mu masih terlihat hening dan sepi
Hanya sesekali terdengar kicau burung merdu hilir mudik
Perlahan lututku bersandar pada gundukan tanah merah
Tanpa sadar beningan kristal lahir dari kelopak mata
Bibir terasa kelu melantunkan baris tiap baris do’a
Mataku sayu dengan tatapan nanar
Kutatap lagi puisi yang tertulis
Untuk menyampaikan seutas rindu dan cinta
Dalam sajak tak bergema
Kulantunkan kembali do’a untukmu
Tanjung Balai, 29 Mei 2013
Tentang Hati
Kegoisan saat nafsu terlalu memburu
Mengalahkan logika ; berimbas cemburu
Menyerupai belati menuai luka
Adalah kelembutan saat tersentuh rasa cinta
Tenang ; memeluk hangat meski dingin membeku
Adalah globe makhluk Ilahi
Hitam putih perjalanan hidup
Misteri ketika mata tertutup
Tanjung Balai, 6 Juli 2013
Sepotong Rindu
Tak ubah empedu
Tak lengkang oleh waktu
Hadirkan sepotong rindu dalam pagi menjelma
Tanjung Balai, 10 Juli 2013
Ayu Ira Kurnia Marpaung nama lengkap dari penulis. Beberapa karyanya berupa artikel, puisi dan cerpen pernah dimuat di Tabloid Gaul, Medan Bisnis, Batak Pos, Harian Waspada, C-Magz, Majalah Kiss, Asahan Post, Majalah Liberty, dan Majalah Frasa Online.
Aktif di dunia Kepenulisan Online Cendol dan Cermat untuk Wilayahnya. Jika ingin menyapanya lebih dekat dapat Add akun facebooknya di Ayuslalu43@yahoo.co.id atau twitter @AyuIraKurnia1.
Untuk lihat lebih lanjut silakan klik linknya. :)
http://radarseni.com/2013/07/14/ayu-ira-kurnia-marpaung/
Langganan:
Postingan (Atom)