Rumah Terakhir
Sedih, airmata, dan penyesalan selalu datang ketika orang yang kita
sayangi harus berpulang terlebih dahulu. Tak ada bedanya denganku.
Bahkan aku tak mengenal sosok itu. Sosok yang seharusnya menemaniku
berlari, bangun dari jatuh, dan berteriak lantang pada dunia.
Ya, sosok itu telah jauh pulang ke rumahNya saat aku masih suci. Belum pernah menyebut nama yang seharusnya kusebut "Ayah".
Kita pasti kembali pada rumahNya. Tapi tidak ada satupun yang tahu kapan itu tiba waktunya. Saat kita sedang tertawa bersama mereka. Atau saat kita sedang bernostalgia. Hanya amanat yang pernah diucapkannya yang membuat kita merasa terpukul dan sedih jika belum mewujudkannya.
Aku belajar dari wanita yang begitu tegar. Yang selalu senyum walau wajahnya melukis gurat kesedihan. Dia lebih merasa kehilangan sebagian nyawa dalam hidupnya. Airmatanya sudah terkuras habis, kata-katanya tersesat entah kemana, bahkan untuk sebuah jeritanpun sudah tidak ada lagi.
Aku tau yang kau rasakan teman. Merasa sangat kehilangan. Apalagi kesedihanmu tidak dapat kau luapkan dihadapannya karena jarak. Lantunkan doa padanya. Iringin kepergiannya dengan senyum bangga karena kau sudah mengenalnya. Aku percaya kau mampu berdiri pada hantaman ombak ini. Tersenyum, buatlah dia bangga padamu.
Mimpi akan membawamu pada impian. Jangan takut untuk bermimpi. Semoga blog ini benar-benar menginspirasi pembaca
Rabu, 27 Juni 2012
Sebatas Teman
Sebatas Teman
"Maaf, Mas. Mungkin rasa yang Mas ucapkan hanya sesaat saja," ucapku bergetar.
"Itu menurutmu, Dik. Tapi aku yakin dengan perasaan ini. Aku tahu, kau pasti tak akan percaya setelah apa yang kuperbuat satu tahun silam."
Ya, kau sudah tau jawabannya. Aku takut untuk merasakan sakit dari orang yang sama. Takut untuk dikecewakan dan dicampakkan begitu saja.
"Dik..." panggilmu lirih.
"Ya, Mas."
"Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahan itu. Aku menyadari kebodohanku telah membuang rasa yang tulus kau berikan padaku. Sekarang aku baru mengerti kalau dirimu cinta pertamaku," ujarmu memelas.
Tuhan, tolong aku dari semua perasaan ini. Haruskah aku memberikan kesempatan ini padanya? Aku masih takut! Bahkan aku belum bisa mempercayai semua kata yang keluar dari bibirnya.
"Maaf, Mas...." ucapku lebih lirih dari sebelumnya.
"Apa kau sudah memiliki penggantiku? Apa kau tega membiarkanku dalam sepi yang mengutukku?"
"Apa maksudmu Mas?" Kini kuberanikan untuk menjawab semua pertanyaanmu. "Kau bilang aku tega! Siapa yang lebih tega membiarkan aku terdampar pada luka?" Suaraku meninggi.
"Aku wanita, Mas. Perasaanku akan rentan bila ada luka yang siap menggores hatiku. Apa kau bisa merasakan apa yang kurasakan dulu? Apa kau masih ingat saat aku mengemis cinta padamu?" Lanjutku diiringi beningan kristal yang tidak dapat kutahan.
Kau hanya tertunduk merenung setiap layar memori yang hadir di kepalamu. Aku masih terus menangis. Apalagi yang bisa kuperbuat untuk semuayang telah terjadi.
"Baiklah, mungkin aku terlalu hina memasuki ruang sucimu lagi, Dik. Benar ucapanmu! Kemana aku saat kau sakit, terpuruk, dan kesepian olehku. Penyeselan. Itu kata yang pantas untukku. Aku lelaki tak bermalu!" Serumu seratya mengutuk diri sendiri.
"Tidak, Mas. Hanya waktu dan keadaan yang merubahmu. Sekarang kita hanya teman. Ya, teman biasa. Kuharap kau dapat menemukan jauh lebih baik dariku," ucapku datar menghapus lembut airmata yang telah jatuh.
Ya, kita hanya teman sekarang. Teman yang dulunya adalah sepasang kekasih. Dan aku harus terluka karena percaya akan kebohongan yang telah kau tulis dalam kertas skenariomu. Dulu kita bersama. Jauh sebelum kau meninggalkanku dengan banyak luka yang menyayatku.
"Izinkan aku menempatkan namamu di sini, hatiku," pintamu.
"Aku tak akan melarang. Tapi, jangan pernah jadikan aku racun pada hubunganmu esok, Mas. Karena aku ingin kita menjaga agar luka itu tak semakin lebar."
Kau mengangguk lemah. Seperti tidak rela jika hanya menyimpan namaku. Tapi apa mau dikata. Nasi telah menjadi bubur. Dan kau harus menelannya, walau mulutmu tidak menerima.
Selasa, 26 Juni 2012
FFku di Majalah Frasa "Jembatan Kenangan", 20 Juni 2012
Jembatan Kenangan"Wow, amazing. Sungguh indah banget suasananya Ros."
"Yups! Kamu benar inilah daerah kelahiranku. Aku sudah sangat merindukannya."
"Aku punya ide brilian, Ros. Tapi..."
"Apa? Kenapa ragu mengatakannya. Come on."
"Hmmm. Aku ingin ini jadi tempat preweeding kita nanti. Aku ingin mengulas secuil keindahan ini untuk melengkapi kebahagian kita nanti."
Airmata mengucur di ujung kelopak mata indah Rosa. Hatinya berdecak kagum dengan pria yang ada dihadapannya. Sungguh ini di luar logikanya. Pria itu menyukai keindahan daerahnya.
"Kenapa menangis? Kau tak setujuhkan dengan usulku. Maaf..." ujarnya lirih.
Aku menubruk kepelukannya. Menumpahkan semua kebahagianyang baru saja dia dengar.
"Aku setuju, Mas. Sangat setuju," ujarku dalam isak tangis.
*
Ake menjerit histeris dan mengacak-acak rambutku. Perasaanku hancvur lebur. Mas Doni telah berpulang ke rumahNya terlebih dahulu. Janji yang sempat terlontar kala itu membuat aku despresi. Bagaimana tidak? Mas Doni, mengalami kecelakaan maut, hingga nyawanya tak tertolong lagi. Saat-saat yang seharusnya akan menjadi kebahagian kami. Jembatan itupun seakan menangisi kepedihanku. Ia telah menjadi saksi bisu saat Mas Doni melamarku.
Kini aku benar-benar gila. Setiap melintas jembatan itu. Aku selalu tertawa, menangis, dan kemudian menjerit histeris. Seakan bumi telah menelan tubuhku dalam-dalam.
Tanjung Balai, 4 Mei 2012
(Terbit di Majalah Frasa, 20 Juni 2012)
Ketika Aku Merindu
Ketika Aku Merindu
Rindu. Ya, hanya itu yang kurasakan saat ini. Rindu mendengarkan suaramu, nyanyianmu, petikan gitarmu, bahkan aku sangat merindukan matamu yang menatap tajam padaku. Perjalanan kisah kita yang dulu sempat terukir perlahan memudar oleh waktu. Kau tahu apa yang kulakukan saat merindukanmu. Aku hanya bisa menangis,menuliskan setiap kalimat rinduku. Mungkin ini cara konyol yang pernah kulakukan sebelumnya. Tapi aku bingung harus melakukan apa lagi untuk menahan rasa rindu ini.
MB, masih ingatkah kau saat kita bermain dibawah airmata langit. Itu suatu hal yang terindah yang akan tetap kuingat sampai kapan pun. Kala itu kita masih kecil, belum mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Yang kita tahu hanya kebersamaan semata. Apa kau juga masih mengingat saat pertama kalinya kita adu mulut saat salah paham? Jujur, aku takut melihat matamu. Tidak ada kedamaian di sana. Aku diam saat kau benar-benar marah. Padahal aku tahu, ini bukan kehendakmu.
MB, kadang aku tersenyum simpul saat mengenang pertama kalinya kau mengungkapkan rasa itu padaku. Aku tercengang saat mendengarnya. Benarkah itu? Hatiku berkecamuk gelisah harus menjawab apa. Akhirnya kau nyanyikan aku sebuah lagu yang sangat kusuka pada waktu itu. So sweet, pujiku dalam hati. Aku luluh dengan nyanyianmu yang begitu menghayati setiap lirik lagu.
Pagi menghadirkanku sebuah airmata kesedihan. Mendengar kabar kau akan meninggalkanku dan kampung halamanmu. Apa yang tlah terjadi padamu? Mengapa begitu cepat kau mengakhiri cerita kita? Pertanyaan hadir mengusik ketenanganku berpikir. Tidak ada tanda-tanda saat kau pergi. Hanya sebuah surat biru yang kugenggam saat kita masih SMP. Ya, hanya itu kenangan nyata yang kupunya.
MB, empat tahun bukan waktu yang singkat buatku menahan semua untaian rindu. Entah mengapa setiap mendengar seseorang menyanyi diiringi oleh petikan gitar. AKu merasa kau hadir di dalamnya. Tersenyum dan menecup mesra keningku. Kuharap rindu ini nyata dan akan segera berakhir dipelukanmu. Aku merindukanmu dan akan tetap merindukanmu.
Minggu, 24 Juni 2012
Nada Kerinduan
Nada Kerinduan
"Aku masih menunggumu di sini," ucapku lirih dengan butiran bening yang jatuh di sudut kelopak mataku.Sajakku telah berhenti
Pada aksara yang lelah menemaniku
Hanya untaian kata yang terucap
Dari labiri hati
"Tasi, kuharap kau cepat kembali dan kita akan sama-sama bercerita tentang rasa yang terabaikan," lanjutku.
Alam terlalu bosan mendengar ocehan rinduku ini. Tapi hanya ini yang dapat kulakukan. Semenjak kepergianmu beberapa tahun yang lalu, aku seperti mayat hidup yang berada di tengah-tengah keramaian. Ilalang hanya bergoyang jikalau beningan kristalku jatuh di atas mereka. Angin terus membawa semua rinduku hingga terurai entah kemana.
"Sudahlah, Nov. Jangan kau tangisin dia. Apa kau tak merasa kasihan melihatnya di sana. Dia pun tersiksa atas apa yang terjadi dengan diri kalian," ujar Ira memegang pundakku.
"Aku yakin dia pasti kembali, Ra. Kami akan memungut kembali serpihan rindu yang berserakan di luar sana," sahutku menatap matanya.
Ira hanya bisa menghela napas panjang mendengar penuturanku. Dia mungkin sudah menganggapku gila, bahkan lebih dari itu. Kadang yang tidak pernah kepikiran olehku apa yang terjadi dengan Tasi. Mengapa ia menghilang tanpa jejak dari kehidupanku. Apa aku melakukan kesalahan yang besar, hingga dia pergi? Batinku menjerit.
"Nov, sebaiknya kau istirahat dulu. Aku khawatir dengan keadaanmu. Jangan pernah menyiksa dirimu sendiri atas apa yang tak pernah kau perbuat."
Ira beranjak ke kamarnya. Meninggalkanku di koridor depan rumah. Aku masih enggan untuk bergeser dari tempat dudukku.
"Tasi, aku akan tetap menunggumu." Ucapku sambil membenamkan wajahku dalam celah kedua kakiku.
*
"Bagaimana kabarmu, Nov? Pasti kamu sekarang lebih dewasa dan cantik," tanyamu ketika itu lewat ponsel.
Pipiku merona, walaupun kau tidak akan tahu itu.
"Baik, Tas. Aku masih seperti dulu kok. Masih acak-acakan, dan nggak akan pernah berubah," jawabku tersipu.
"Aku nggak percaya itu. Aku yakin kau pasti berubah banyak. Nov, ada yang ingin kukatakan padamu. Dan ini serius," ucapmu dari sebrang sana dengan nada yang berbeda.
Aku gusar. Perasaanku kala itu aneh. Belum pernah sebelumnya kau berbicara dengan nada seperti itu. Dan aku yakini itu pasti hal yang serius.
"Nov..."
"Ya. Eh,,, mau ngomong apa tadi," ucapku gagap.
"Hmm."
Hening hanya ada helaan napasmu yang kudengar. Cukup lama.
"Aku mencintaimu, Nov. Sangat mencintaimu. Bahkan sejak kita masih SD dulu, aku sudah menaruh perasaan itu. Aku tau ini mungkin terlalu cepat. Tapi, aku benar-benar mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya."
DEG!!!
Jantungku seperti telah berhenti berdetak. Ada rasa yang aneh mengalir di sekujur badanku. Aneh. ini pertama kalinya Tasi mengungkapkan perasaannya padaku. Selama ini kami seperti anjing dan kucing, tidak pernah akur. Tapi ini, ada apa dengan Tasi.
"Nov..." Panggilmu hati-hati.
"Maaf, Tas."
"Kenapa harus minta maaf, Nov. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah terlalu lancang untuk mencintaimu."
Kudengar ucapanmu kini dengan nada sedih. Aku tidak dapat melihatmu, tapi bisa merasakan suasana hatimu saat ini.
"Aku juga mencintaimu, Tas. Aku juga sudah lama memendam perasaan ini," jawabku akhirnya.
"Benarkah ini yang kudengar. Ini bukan mimpikan."
"Bukan!"
"Makasih, Nov. Aku bahagia sekarang. Walau jarak yang jauh sebagai penghalang kita. Aku yakin kita pasti bisa melewatinya. Sebagai rasa bahagiaku, izinkan aku menyanyikan lagu untukmu."
Tanpa menunggu jawaban dariku. Samar-samar kudengar petikan gitar yang selalu kau mainkan sejak dulu.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku
Rasa terharu membuatku menangis tanpa sadar. Lagu Andra and The Backbone dengan lirik "Sempurna" membuatku terhanyut di dalamnya.
"Itu yang kusuka darimu. Suaramu, petikan gitarmu selalu menjadi nayawa dalam hidupku," ucapku dalam hati.
"Makasih Tasi buat semuanya. Lagu yang kau persembahkan untukku.Aku sangat menyukainya," pujiku.
"Iya, sayang. Aku janji akan terus menyanyikannya untukmu. Menemanimu dalam sepi dengan petikan gitarku. Aku selalu mencintaimu. I love you."
"I love you too."
*
"Nov, yuk ikut aku pantai. Mungkin bisa membuat hatimu lebih baik dari sekarang," ajak Ira.
Ira sepupu sekaligus teman curhatku. Dia lebih mengerti aku dengan perasaan rindu pada Tasi. Membiarkan bajunya basah dengan airmataku.
"Aku lagi malas keluar, Ra," sahutku lesu.
Ira menghempaskan pantatnya di sampingku. Dengan lembut ia mengelus rambutku seperti menghadapi seorang anak kecil.
"Nov, jangan bohongi aku. Dengarkan aku ya, jika kau terus seperti ini yang ada kamu nggak bakal bisa ketemu Tasi. Kamu harus kuat dan tetap semangat. Nanti aku bakalan bantu kamu buat cari dia," bujuknya.
Dengan enggan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhku dan membuat wajah lusuhku secerah langit pagi ini.
*
"Nov, gimana kamu sukakan dengan suasananya. Aku tau kamu bakalan suka. Soalnya siapa yang nggak tau seorang Novi yang maniak biru, suka pantai, dan rela menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk memandang birunya laut," celetuk Ira menggodaku.
Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Aku seharusnya tidak seperti ini, mengabaikan semua usaha Ira untuk membuatku tersenyum dan melupakan sejenak Tasi. Tidak, bukan melupakannya. Hanya membiarkannya sejenak beristirahat dalam pikiranku.
"Ra, bolehkan aku bermain dengan pantai," pintaku seolah-olah Ira adalah orangtuaku.
"Hahaha, kamu ini ada apa sih Nov. Ya sudah sana, ngapain pakai izin segala sih," gelaknya.
Perlahan kulangkahkan kaki telanjangku ke ujung bibir pantai. Menikmati jilatan ombak yang sangat antusias. Sesekali angin laut berhembus menerpa rambut dan menampar wajahku. Aku begitu bersahabat dengannya. Berkali-kali kufokuskan tatapanku pada laut, dan entah kenapa bayangan akan dirimu bermain di sana.
"Taaassiiiiiiii." Pekikku bersama hantaman ombak ke karang.
"Nov, kamu kenapa," tanyanya khawatir denganku.
"Aku benar-benar merindukannya, Ra. Aku nggak bisa melupakannya. Seberapa langkahpun aku menjauh, Tasi selalu hadir dalam bayangan. Ia tersenyum dan mengajakku ke suatu tempat. Aku kangen, Ra..." Ucapku dalam tangis.
"Nov, sabar. Jangan pernah seperti ini. Tasi nggak ada di sini."
"Ra, sampai kapan aku terus sabar seperti ini. Sampai kapan aku aku akan diam tanpa berusaha mencarinya. Aku mencintainya, Ra."
Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan padanya. Dia bungkam dan tidak bisa menjawab satupun pertanyaanku. Ya, itu hal konyol. Mana mungkin dia bisa mengerti semua perasaan yang kuhadapi, tanpa ia merasakannya.
Aku mundur beberapa langkah darinya. Menjauh dan berlari semampuku untuk tidak melihat wajahnya. Aku terlalu muak dengan kata-katanya yang tidak pernah mengerti tentangku.
*
"Nov, aku rasa hubungan kita nggak bersama lagi. Aku takut hubungan kita akan putus di tengah jalan," ucapnya suatu hari.
"Tasi, aku percaya nggak akan ada apa-apa dalam hubungan kita. Aku sayang kamu dan begitu juga sebaliknya. Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan," jawabku datar.
"Nggak, Nov. Kita harus berpisah, jika kita berjodoh aku yakin takdir akan mempertemukan kita. Menyatukan kita kembali."
Aku tertunduk lesu. Harusnya saat ini kita tertawa ria. Kerinduan yang sudah menumpuk pada ruang hati bisa tercurahkan dengan suka cita. Tapi kenapa kau membawa berita buruk. Bahkan lebih buruk dari kematian.
"Maafkan aku, Nov. Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya. Aku nggak mau kau kecewa denganku karena aku nggak bisa membahagiakanmu," lanjutmu kemudian.
*
jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
Dengan enggan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhku dan membuat wajah lusuhku secerah langit pagi ini.
*
"Nov, gimana kamu sukakan dengan suasananya. Aku tau kamu bakalan suka. Soalnya siapa yang nggak tau seorang Novi yang maniak biru, suka pantai, dan rela menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk memandang birunya laut," celetuk Ira menggodaku.
Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Aku seharusnya tidak seperti ini, mengabaikan semua usaha Ira untuk membuatku tersenyum dan melupakan sejenak Tasi. Tidak, bukan melupakannya. Hanya membiarkannya sejenak beristirahat dalam pikiranku.
"Ra, bolehkan aku bermain dengan pantai," pintaku seolah-olah Ira adalah orangtuaku.
"Hahaha, kamu ini ada apa sih Nov. Ya sudah sana, ngapain pakai izin segala sih," gelaknya.
Perlahan kulangkahkan kaki telanjangku ke ujung bibir pantai. Menikmati jilatan ombak yang sangat antusias. Sesekali angin laut berhembus menerpa rambut dan menampar wajahku. Aku begitu bersahabat dengannya. Berkali-kali kufokuskan tatapanku pada laut, dan entah kenapa bayangan akan dirimu bermain di sana.
"Taaassiiiiiiii." Pekikku bersama hantaman ombak ke karang.
"Nov, kamu kenapa," tanyanya khawatir denganku.
"Aku benar-benar merindukannya, Ra. Aku nggak bisa melupakannya. Seberapa langkahpun aku menjauh, Tasi selalu hadir dalam bayangan. Ia tersenyum dan mengajakku ke suatu tempat. Aku kangen, Ra..." Ucapku dalam tangis.
"Nov, sabar. Jangan pernah seperti ini. Tasi nggak ada di sini."
"Ra, sampai kapan aku terus sabar seperti ini. Sampai kapan aku aku akan diam tanpa berusaha mencarinya. Aku mencintainya, Ra."
Pertanyaan demi pertanyaan kulontarkan padanya. Dia bungkam dan tidak bisa menjawab satupun pertanyaanku. Ya, itu hal konyol. Mana mungkin dia bisa mengerti semua perasaan yang kuhadapi, tanpa ia merasakannya.
Aku mundur beberapa langkah darinya. Menjauh dan berlari semampuku untuk tidak melihat wajahnya. Aku terlalu muak dengan kata-katanya yang tidak pernah mengerti tentangku.
*
"Nov, aku rasa hubungan kita nggak bersama lagi. Aku takut hubungan kita akan putus di tengah jalan," ucapnya suatu hari.
"Tasi, aku percaya nggak akan ada apa-apa dalam hubungan kita. Aku sayang kamu dan begitu juga sebaliknya. Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan," jawabku datar.
"Nggak, Nov. Kita harus berpisah, jika kita berjodoh aku yakin takdir akan mempertemukan kita. Menyatukan kita kembali."
Aku tertunduk lesu. Harusnya saat ini kita tertawa ria. Kerinduan yang sudah menumpuk pada ruang hati bisa tercurahkan dengan suka cita. Tapi kenapa kau membawa berita buruk. Bahkan lebih buruk dari kematian.
"Maafkan aku, Nov. Aku yakin kau pasti bisa menghadapinya. Aku nggak mau kau kecewa denganku karena aku nggak bisa membahagiakanmu," lanjutmu kemudian.
*
Pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku
jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih
jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih
pernah ada rasa cinta antara kita
kini tinggal kenangan
ingin kulupakan semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh bintangku
jauh kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini kucoba mencari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh kekasih
Kupetik gitar yang sudah lama tidak pernah kujamah. Semenjak kepergian dirimu aku membenci gitar. Malam ini rasa rinduku telah memuncak. Kupaksa jemari untuk memainkannya dan menyanyikan lirik lagu yang sama seperti perasaanku saat ini.
"Tasi, kuharap lagu ini mampu menyampaikan semua rinduku yang membuatku sesak," lirihku.
Bintang menapaki dinding langit satu persatu ditambah dengan pancaran rembulan yang bersembunyi di belakang awan hitam. Airmata terus bergulir membasahi pipiku. Tanpa memperdulikan ejekan dari rombongan jangrik yang terus bersahut-sahutan mentertawakanku dalam kerinduan.
Malam ini mengajarkanku tentang sepi yang tidak bertuan. Rindu yang terdampar pada alamat yang salah. Apakah aku harus melupakan dia? Melupakan suaranya dan petikan gitar yang selalu menemaninya jikala aku sedih. Memberikanku cawan madu yang disuguhkannya dengan cinta.
*
"Nov, ada undangan untukmu. Dan aku harap kamu bisa tahan emosinu," tutur Ira.
Aku melonggo dalam kebingungan mendengar ucapannya.Tanganku gemetar saat menerima sebuah kertas biru yang diikat pita dari Ira.
Lututku serasa lemas, jantungku berdetak tidak beraturan. Rasanya aku ingin mengeluarkan semua isi hatiku sekarang. Kulihat nama yang tertera pada undangan biru itu. Pernikahan Mangatasi Bagariang dengan sahabat SDku dulu, Tya Agum Gumelar. Kucoba menahan butiran hangat yang sudah memaksa untuk keluar. Dan, akhirnya aku tidak sanggup menahannya.
"Ini nggak mungkin. Sejak kapan Tasi menyukai Tya, ini pasti salah. Ini pasti salah," pekikku histeris.
"Nov, aku tadinya nggak percaya. Tapi inilah kenyataannya. Ada secarik surat didalamnya. Kamu harus baca, mungkin ada penjelasan dari Tasi akan hal ini." Ira menenangkanku.
Buru-buru kubuka surat yang ada di dalam. Tanganku gemetar bersama airmata yang menemaniku.
Dear, Novitaku
Jakarta, Maret 2011
Aku harap keadaanmu sama seperti dulu. Selalu ceria, tertawa, dan tersenyum walau luka menggores hatimu. Maafkan aku, Nov. Sejak aku meninggalkanmu hidupku berantakan, aku benar-benar kehilanganmu. Dan kamu tahu, orangtuaku menjodohkan aku dengan Tya teman kita dulu. Keluargaku sudah banyak berhutang budi dengan keluarga Tya, Mau nggak mau aku harus menerimanya.
Nov, aku tau kau pasti kecewa dengan diriku. Kau pantas mengumpat bahkan menghujatku, jika itu membuatmu lega. Nov, aku menunggumu di sini. Aku ingin melihat wajahmu terakhir kalinya. Kuharap kau datang.
"Ini nggak mungkin. Sejak kapan Tasi menyukai Tya, ini pasti salah. Ini pasti salah," pekikku histeris.
"Nov, aku tadinya nggak percaya. Tapi inilah kenyataannya. Ada secarik surat didalamnya. Kamu harus baca, mungkin ada penjelasan dari Tasi akan hal ini." Ira menenangkanku.
Buru-buru kubuka surat yang ada di dalam. Tanganku gemetar bersama airmata yang menemaniku.
Dear, Novitaku
Jakarta, Maret 2011
Aku harap keadaanmu sama seperti dulu. Selalu ceria, tertawa, dan tersenyum walau luka menggores hatimu. Maafkan aku, Nov. Sejak aku meninggalkanmu hidupku berantakan, aku benar-benar kehilanganmu. Dan kamu tahu, orangtuaku menjodohkan aku dengan Tya teman kita dulu. Keluargaku sudah banyak berhutang budi dengan keluarga Tya, Mau nggak mau aku harus menerimanya.
Nov, aku tau kau pasti kecewa dengan diriku. Kau pantas mengumpat bahkan menghujatku, jika itu membuatmu lega. Nov, aku menunggumu di sini. Aku ingin melihat wajahmu terakhir kalinya. Kuharap kau datang.
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Sebait lagu yang pernah kunyanyikan untukmu pertama kalinya. Aku akan selalu mencintaimu walau tak seperti dulu. Namamu masih ada di sini, hatiku. I love you.
Orang yang mencintaimu
Tasi
"Kau penipu, Tas. Kau hancurkan perasaanku. Kau bajingan!" Jeritku memuncak.
Kuremas surat yang baru saja kubaca. Kulempar hingga aku benar-benar merasa terpukul. Harapanku untuk menebus semua kerinduan ini telah hancur tidak berbalas. Tasi benar-benar sudah melupakan cinta yang pernah diucapkannya. Aku terlalu bodoh menunggu lelaki yang tidak pantas untuk kutunggu.
*
Ira menatap iba padaku. Setiap mendengar semua lagu tentang rindu, aku selalu menjerit histeris ketakutan. Lari ke sudut, mendekap kakiku rapat-rapat, dan seperti orang linglung. Sejak peristiwa itu, aku sudah dinyatakan gila oleh pihak rumah sakit yang merawatku. Hanya Ira yang masih setia menjagaku. Walau terkadang ia menjadi objek utamaku untuk melampiaskan sesuatu yang kadang datang menghantuiku.
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Sebait lagu yang pernah kunyanyikan untukmu pertama kalinya. Aku akan selalu mencintaimu walau tak seperti dulu. Namamu masih ada di sini, hatiku. I love you.
Orang yang mencintaimu
Tasi
"Kau penipu, Tas. Kau hancurkan perasaanku. Kau bajingan!" Jeritku memuncak.
Kuremas surat yang baru saja kubaca. Kulempar hingga aku benar-benar merasa terpukul. Harapanku untuk menebus semua kerinduan ini telah hancur tidak berbalas. Tasi benar-benar sudah melupakan cinta yang pernah diucapkannya. Aku terlalu bodoh menunggu lelaki yang tidak pantas untuk kutunggu.
*
Ira menatap iba padaku. Setiap mendengar semua lagu tentang rindu, aku selalu menjerit histeris ketakutan. Lari ke sudut, mendekap kakiku rapat-rapat, dan seperti orang linglung. Sejak peristiwa itu, aku sudah dinyatakan gila oleh pihak rumah sakit yang merawatku. Hanya Ira yang masih setia menjagaku. Walau terkadang ia menjadi objek utamaku untuk melampiaskan sesuatu yang kadang datang menghantuiku.
Menangis aku kenang
Saat hatiku kau tinggalkan
Hanya sakit yang aku pendam
Dalam rindu yang semakin dalam
Tak tahu harus dimana ku temukan jawabnya
Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Kekasih kau yang ku kenang
Jatuhkanku dalam lingkaran
Walau sakit yang aku pendam
Rindu ini tak kunjung padam
Tak tahu harus dimana ku temukan ooh
Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Sampai nanti selalu bertanya
Saat hatiku kau tinggalkan
Hanya sakit yang aku pendam
Dalam rindu yang semakin dalam
Tak tahu harus dimana ku temukan jawabnya
Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Kekasih kau yang ku kenang
Jatuhkanku dalam lingkaran
Walau sakit yang aku pendam
Rindu ini tak kunjung padam
Tak tahu harus dimana ku temukan ooh
Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Kau pujaanku dimana
Ku sakit harus menunggu lama
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Merana hati merana
Dalam rindu aku bertanya
Sampai nanti selalu bertanya
Tanjung Balai, 25 Juni 2012
09.11
Langganan:
Postingan (Atom)


