Kamis, 08 Mei 2014

mayokO aikO Goes to Campus USU Medan

mayokO aikO Goes to Campus USU Medan
Oleh: Ayu Ira Kurnia Marpaung

Rabu, 07 Mei 2014, tepatnya di FISIP USU Medan berlangsung acara pelatihan kepenulisan Novel dan Advertising bersama Ayah mayokO aikO dan Opa Putra Gara. Sumpah! Keren banget. Dan untuk pertama kalinya seorang Ayah aikO bisa menjejakkan kakinya ke kota Medan. Horas!


Tepat pukul 10.00, acara pelatihan dimulai. Dimulai dengan perkenalan dari dua sosok narasumber yang sudah rela-rela datang dari jauh. Materi pertama, diberikan oleh Ayah aikO. Materi yang diberikan adalah tentang iklan. Wew! Terang saja sambutan hangat dari peserta saat mendengarkan satu persatu penjelasan Ayah aikO. Peserta sangat antusias, apalagi ada buku gratis juga yang diberikan Ayah untuk peserta yang beran bertanya dan maju ke depan.


Kemudian dilanjut oleh Opa Putra Gara memberikan materi tentang kepenulisan novel. Beberapa materi yang diberikan ada berupa semangat untuk menulis bagi pemula yang merasa tulisannya kurang layak. Salah satunya adalah "Tulisan kamu jelek banget" | Iya, kan saya nuliisnya bukan buat kamu". Salah satu qoute Opa Gara yang membuat peserta manggut-manggut. Dan satu qoute yang lebih membuat peserta semangat adalah "Pena lebih dasyat dari pada dentuman meriam".
Pelatihan ini diikuti lebih dari 80 orang yang tergabung oleh Mahasiswa dan umum. Antusias mereka terlihat dari jarak yang ditempuh peserta untuk datang ke tempat. Pelatihan ini juga disertai sertifikat yang dtandatanganin oleh Dekan serta dua narasumber. Usai acara, dua narasumber mendapat bingkisan dari panitia. Dilanjut foto bareng bersama. Dan menurut bisik-bisik peserta, pelatihan ini kurang lama banget. Hhihihi






Medan, 07 Mei 2014


Minggu, 20 April 2014

Majalah Halo Nanda

Cernakku akhirnya mejeng juga meski di majalah online. "Airmata Langit" cernak pertama yang dimuat di Majalah Online edisi 27 Maret 2012.


Airmata Langit
Oleh: Ayu Ira Kurnia Marpaung


"Lihat, Dila! Langitnya bersedih," teriak Nabil sambil berdiri di atas bukit hijau. Tangannya menunjuk ke arah langit yang mulai tampak mendung.
Siang ini, Nabil mengajak Dila bermain di atas bukit hijau, tidak jauh dari rumah kakek dan nenek. Sudah dua hari mereka berlibur di sini.
"Ah, bukan. Mana mungkin langit bersedih. Dia kan bukan manusia seperti kita," sahut Dila.
Nabil memajukan bibirnya mendengar ucapan Dila. Saudara kembarnya itu selalu tidak percaya dengan ucapannya.
"Kamu terlalu percaya kata Nenek," sambung Dila sambil mendekati Nabil. "Mana kedua matanya, kalau langit bisa menangis?
Nabil tidak menjawab pertanyaan Dila. Ia malah asyik memperhatikan langit. Menurutnya kedua mata mata langiat adalah awan. Kalau awan hitam, bertanda akan turun hujan.
“Tuh kan, kamu nggak tahu jawabannya,” Dila tertawa.
Tiktiktik.. tiba-tiba dari langit jatuh titik-titik hujan. Semakin lama semakin banyak.
“Dil, ayo kita pulang!” teriak Nabil. Dila mengangguk.
Dua bocah perempuan sepuluh tahun itu dengan sekuat tenaga berlari menuruni bukit. Sebentar saja, mereka sudah basaj kuyup.
“Aduh cucu-cucu Nenek. Kalian darimana?” sambut Nenek khawatir di pintu rumah.
“Kami tadi bermain di atas bukit, Nek!” jawab Nabil.
Nenek mengeleng-gelengkan kepala. “Cepat kalian mandi sebelum masuk angin!”
Nabil dan Dila bergegas mandi. Setelah mandi, mereka menemui nenek di ruang tamu. Nenek sudah menyiapkan teh hangat dan sepiring pisang goreng.
“Nek, masa Dila nggak percaya, kalau langit bisa bersedih,” lapor Nabil lalu mencomot pisang goreng.
“Iya, aku nggak percaya, Nek!” tukas Dila
Nenek terkekeh hingga ompongnya terlihat. “Hujan adalah airmata langit. Biasanya, langit bersedih karena melihat bumi tidak dijaga dan dirawat manusia dengan baik. Bukankah Kakek selalu menasihati kalian untuk selalu menjaga lingkungan. Kalian tahu apa akibatnya kalau langit terus menangis?"
Nabil dan Dila kompak menggeleng.  Mereka tidak mengerti ucapan nenek.
"Kalau langit tidak berhenti menangis, bumi akan kebanjiran. Kita akan tenggelam. Tidak ada pohon-pohon untuk berpegangan. Harusnya kita menanam pohon yang banyak supaya saat langit menangis, kita tidak hanyut terseret banjir," ucap Nenek.
"Kalau langit masih menangis gimana, Nek?” tanya Nabil penasaran.
"Langit bukan menangis karena sedih, tapi bahagia. Langit akan membantu kita menjaga bumi agar tampak hijau, persis bukit tempat kita berdiri sekarang."
 “Terus apa yang harus kita lakukan supaya langit bisa menangis bahagia? Kita kan masih kecil, Nek” tanya Dila bingung. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Besok kalian bantu Kakek  menanam seribu pohon di kampung ini. Bagaimana? Kalian mau? Tiba- tiba kakek masuk ke ruang tamu. Ternyata Kakek sejak tadi mendengar perbincangan nenek, Nabil dan Dila.
Mau, Kek!” jawab Nabil dan Dila serempak.
*
          Hari Minggu yang cerah. Nabil dan Dila sudah siap dengan baju olahraga dan sepatu sport. Rambut mereka dikuncir kuda. Kakek juga sudah siap. Di halaman rumah sudah banyak pohon-pohon yang siap ditanam.
          “Ayo, kita kumpul di rumah Pak Ridwan. Biar cepat pohonnya ditanam dan kampung kita bebas bencana,” ucap kakek.
          Nabil dan Dila mengangguk. Mereka berjalan penuh semangat. Di sana sudah banyak warga yang kumpul. Banyak juga anak-anak seusia Nabil dan Dila. Mereka juga ingin ikut menanam seribu pohon. Di mulai dari rumah warga, satu persatu pohon di tanam.
          Nabil dan Dila dan warga segera menanam pohon. Mereka tidak meperdulikan pakaian kotor. Semuanya bersemangat dan tidak kenal lelah. Sudah hampir setengah hari mereka menanam pohon, tinggal beberapa pohon yang belum ditanam.
          “Lihat, langitnya mulai sedih lagi. Bukannya seharusnya dia senang karena bumi akan hijau kembali,” teriak Dila.
          “Langit tidak bersedih. Langit akan menurunkan hujan untuk  membantu menyuburkan pohon yang baru kita tanam,” tukas Nabil
            Kali ini Dila mengangguk setuju.

 


Minggu, 13 April 2014

Majalah HAI

Alhamdulillah, sempat mikir nggak bakal bisa naklukkan majalah satu ini. Tapi..... Makasih buat kalain yang selalu ada saat aku jatuh.

Cerpen "Gue (Bukan) Playboy" terbit di Majalah HAI edisi 10/2014/XXXVIII

Gue (Bukan) PlayboyOleh: Ayu Ira KurniaMarpaung

"Pokoknya aku nggak sukaliat kamu deket-deket sama Vivie. Emang dia siapanya kamu sih, bela-belainbantu dia beresin gudang," cerocos Eki manyun.

"Kan bantu temen dapat pahala,Beb. Jangan cemburu gitu dong. Ntar nggak embem lagi tuh pipinya," rayuBana manja.

Eki cuma balas cemberut. Hatinyalagi dibakar api cemburu. Gimana nggak dongkol kalo liat pacar lagimesra-mesraan bareng musuh bebuyutan. Bana yang duduk disebelahnya cuma bisabengong. Huh! Bakalan jadi Bang Toyibnih, rutuknya. Kalo bukan Akbar yang membeberkan semuanya, nggak bakalperang dunia nih. Dasar Akbar ember!omel Bana kesal.

*

"Kalo udah punya satu cewek,jangan main tikung ke cewek lain, Bro. Tahu sendiri kalo si Eki cemburuan. Losendiri kenapa doyan sih sama dia. Udah gendut, item, kribo lagi," selaAkbar di kantin.

"Namanya juga cinta. Lagiangue juga nggak cakep-cakep amat. Mana mungkin berani suka sama cewek bening.Bisa-bisa gue diketawain. Lagian Eki itu tipe gue banget, anaknya asik dannggak bosenin," balas Bana sewot. 

Diseruputnya sampai kinclong es cendolyang ada dihadapannya. Rasa hausnya belum juga terobati perihal Eki yang masihmogok ngomong dengannya. Niat awal mau sidang Akbar perihal masalah kemarendipending karena disogok es cendol.

"Jangan nyerah dulu, Bro.Buktinya banyak cewek-cewek yang deketen lo. Vivie, Ita, Anggrek, Widia, itusemua cewek populer yang ngarep bisa jadi gebetan lo. Lonya aja pura-pura begoatau emang beneran bloon," Akbar menambahin omongannya.

Bana cuma bisa bertopang dagu.Pikirannya masih di satu titik, Eki. Biarpun orang bilang dia cewek aneh, tapiada satu kelebihan yang nggak dimiliki cewek lain, kepintarannya. Cowokcungkring ini mengaku bisa klepek-klepek karena habis diajarin Matematika danbesoknya langsung dapat nilai B plus. Dari situ Bana mulai simpati sama Eki.Cinta emang buta ya. Hihihii

“Biar kata orang cinta itu buta,bukan berarti lo harus buta milih calon pacar. Kalo gue sih amit-amit gitupacaran sama Eki. Biar tampang pas-pasan, gue masih milih-milih yang mau guejadiin pacar.” Mulut Akbar penuh makanan, sampai omongannya nggak jelas gitu.Makanannya berhambur ke sana-sini. Membuat Bana makin dongkol.

“Badan segede itu mau milih-milihpacar. Mimpi itu jangan ketinggian, kalo jatuh badan lo bisa kempes,” balasBana sewot.

Akbar cuma cengengesan. Belnyaring memekakkan telinga. Memaksa Bana dan Akbar meninggalkan kantin sebelumPak Lonyenk, guru horor itu masuk duluan. Bisa bener-bener hidup di nerakadibuatnya seharian penuh.

*
Ini udah seminggu dari Banamenyetujui untuk menarik perhatian cewek-cewek yang jadi target mereka. Banaberhasil membuat empat cewek populer nempel terus di sampingnya. Vivie selalusaja mengantarkan sarapan roti plus slai stoberi, Ita memberikan dengan sukarelawanuang sakunya setiap Bana kehabisan ongkos pulang naik angkot.  Anggrek selalu datang tepat pada waktunya,ketika Bana kesulitan mengerjakan pe-er Bahasa Indonesia menulis puisi. DanWidia, cewek kurus tinggi langsing ini tampak ikhlas memberikan senyuman mahalyang jarang diberikan kepada orang lain.

Sementara, Eki diwanti-wanti biarnggak liat pemandangan panas ini. Bisa kacau urusan percintaan. Padahal Banakasihan banget kalo Eki sampai diduain hanya karena fisik. Untungnya, sejakkejadian itu Eki jarang kelihatan. Mungkin lagi nyiapin bekal buat ikutanlomba. Maklum, jelek-jelek begitu Eki sering dapat prestasi dan mengharumkannama sekolah. Tapi bukan bunga kantil yaa, sereeemmm. Hiihiihii…

*

"Gimana Bro? Lo pilih yangmana untuk dijadikan pacar simpanan lo? Lumayan ‘kan bisa buat hari lo lebihberwarna. Biar nggak kusam terus," ujar Akbar selepas dari perpustakaan.

Bana cuma diam. Matanyamenerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya. Yang pasti cuma dia dan Tuhanyang tahu.

"Kok diam aja sih? Kenapa? Nggakpede? Emang sih, kalo diliat dari tampang lo nggak keren-keren banget, bukanketua OSIS, bukan kapten basket, nggak cool,tapi banyak cewek yang kepincut. Heran gue jadinya," Akbar menggarukkepalanya yang tak gatal.

"Tapi gue baik, Bro. Senangmembantu mereka sampai selesai tanpa pamrih," sahutnya asal.

"Nah, tunggu apa lagi.Pacarin aja salah satu dari mereka, kalo perlu semuannya," timpal Akbarsemangat.
Hening beberapa menit.

“Kok diam aja sih? Lo bengong apakesambet? Mikir kayak gini aja, udah mirip ngadapin ulangan Fisika,” sambungAkbar kesal.

 "Sebenarnya gue mau banget. Tapi guenggak bisa. Gue udah netepin hati gue buat Eki. Nggak peduli orang bilang apatentang dia, yang penting hatinya. Satu lagi, mungkin cewek yang kepincut samague karena gue bukan cowok playboy,"tandasnya akhirnya, membuat Akbar mati kutu. Percuma dong gue manas-manasin lo tiap hari. Gatot deh, alias gagaltotal,rutuk Akbar kecewa.

Senin, 16 Desember 2013

Adilkah?

Boleh kan aku cemburu? Ya, cemburu atas apa yang kulihat. Aku juga ingin dipeluk, dicium, dan di tanya "apa kabar?". Perlu aku pergi dari kehidupannya agar dia melakukannya untukku. Apa bedanya aku dengannya?


Rabu, 04 Desember 2013

Cerpen "Separuh Aku, Dirimu" Medan Bisnis

Alhamdulillah, sempat melupakan kalau pernah kirim ini cerpen. Cerpen yang kukirim 23 Oktober 2013 lalu, akhirnya dimuat minggu lalu. Senang sudah pasti. Benar kata Om DAN "Tulis, kirim, lupakan" itu akan membuatmu lebih semangat menulis dari pada menunggu. Cerpen "Separuh Aku, Dirimu" dimuat di Medan Bisnis edisi Minggu, 1 Desember 2013 rubrik Art & Culture.




Separuh Aku, Dirimu
Oleh : Ayu Ira Kurnia Marpaung

            “Kenapa masih di sini? Apa kau tak bosan hanya meratapi dirimu sendiri? Bukankah dari dulu sudah kukatakan, jangan mencintai anak sebrang dan miskin itu?”

            Aku melirik sinis arah suara yang baru saja membentakku. Ingin rasanya aku mendorong tubuhnya hingga jatuh dan tenggelam untuk selamanya. Kebencianku benar-benar sudah di atas ubun-ubun dan siap untuk diluapkan.

            “Dengar! Jika kau terus seperti ini. Aku tak segan mempercepat untuk melamarmu! Jangan pernah ingat lelaki pecundang seperti dia. Camkan itu!” Ancamnya membuatku semakin kesal.

            “Bukan urusanmu mengatur hidupku! Bukankah dirimu lebih pecundang dibanding dirinya? Kau hanya bisa mengandalkan harta dan harta. Bersembunyi di balik ketiak Ibumu!” Umpatku kesal.

            “Kau…,” suaranya tercekat dan hampir saja tanggannya melayang ke pipiku.

            “Apa?! Kau mau menamparku dan mengadu pada Ibuku? Silakan! Kau sama saja seperti anak kecil yang merengek meminta permen agar diam. Dengar ya, kau tak akan bisa memperlakukanku seperti wanitamu yang sudah-sudah,” aku menghentak geram melihat tampang bancinya.

Aku melongos pergi meninggalkannya menatap heran padaku. Tak kupedulikan panggilannya yang mencoba untuk merayu atau membujukku untuk meredam amarah yang sudah tak bisa kuelakkan lagi.

*

            “Aku akan datang melamarmu. Tapi tidak saat ini. Aku harus bekerja untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup.”

            “Benarkah…” Ucapku berkaca-kaca.

            “Iya, Sayang. Aku tak mau Ibumu terus memojokkanku karena aku anak sebrang dan miskin. Ya, walau kebanyakan anak-anak di sana brutal dan sering buat onar. Tapi tidak untukku. Percayalah, aku akan berusaha meluluhkan hati Ibumu,” ucapmu lembut.

            Aku menghambur ke pelukanmu. Merasakan setiap getaran cinta yang semakin membentuk gelombang dasyat. Indah. Kata yang tidak henti-hentinya kuucapkan saat bersamamu. Menikmati senja, duduk di atas jembatan sambil menikmati deburan angin. Ah, ingin aku melakukan ini setiap saat. Menghirup aroma parfum bajumu dan merasakan detak jantungmu yang berdetak hebat.

*

            “Apa yang kau lakukan terhadapnya? Ia baik dan tulus mencintaimu. Tapi kau malah mengatainya pecundang. Ingat, dia sudah banyak membantu kita. Cobalah untuk bisa menerimanya. Jangan kunci hatimu untuk dia,” suara Ibu menggema dikeheningan malam.

            “Ibu, aku nggak bisa menerimanya. Apa Ibu rela melihat aku menikah tanpa rasa cinta? Apa Ibu sanggup melihatku menderita dalam ikatan suci? Dia tak sebaik yang Ibu pikirkan.” Aku mencoba membujuk Ibu agar berhenti memuji lelaki yang dianggapnya baik dan pemurah itu.

            “Diam!” Ibu membentakku, dan ini untuk pertama kalinya dalam hidupku. “Cinta dan cinta saja yang kau katakan. Setelah menikah kalian juga bisa saling mencintai. Dengar! Ibu tak mau lagi mendengar alasanmu untuk menolak niat baiknya melamar kau!” Masih dengan luapan amarahnya, Ibu membanting pintu kamarku dengan keras. Ia tak mempedulikan semua perasaanku yang diperjualbelikan oleh harta lelaki bajingan itu.

            “Ayah, andai saja kau masih ada. Pasti ada tempatku berlindung dan mengadu padamu. Tuhan, lancangkah hamba-Mu ini meminta kemurahan-Mu membukakan pintu hati Ibuku yang dibutakan oleh keadaan?” aku menahan tangis membenamkan kepalaku di bantal. Malam semakin larut dengan kesunyian yang menghiasi langit. Tanpa bintang dan sinar bulan yang mendampinginya. Aku terlelap dalam tidur dengan membawa beban hidup yang terlalu rumit.

*

            “Aku akan datang menemui Ibumu. Aku akan yakinkan Ibumu kalau orang sebrang tak semuanya bejat, dan aku akan beritahu Ibumu kalau diriku sudah bekerja untuk bisa memberimu nafkah kelak,” ucapmu lembut.

            Aku hanya menatapmu. Wajahmu begitu tenang. Dengan sigap kau tarik tanganku dan menyuruhku untuk menaiki sepeda motor. Hati-hati sekali kau mengendarainya.

            Sepanjang jembatan aku dan kau terus membisu. Tiba-tiba saja perasaan gelisah menyelinap dalam pikiranku. Semacam akan ada peristiwa yang akan menimpa kita. Ah, mungkin hanya perasaanku saja, gumanku lirih.

            Naas. Saat di ujung jembatan, sebuah truk pengangkut pasir datang tiba-tiba. Kontak kau gugup dan lepas kendali.

BBRRRAAAKK!!

            Tabrakan tidak bisa terhindar. Samar-samar kulihat kau meringis menahan sakit. Darah mengucur di dahi dan bagian kepalamu. Kurasakan sakit yang teramat pada tanganku yang terbentur keras pada sepeda motormu. Masih sempat kulihat banyak orang yang mengerumi kita dan mencoba membawa ke rumah sakit. Kepalaku semakin lama semakin berat dan pemandangan gelap seketika.

*

            “Sebulan lagi aku akan datang dan melamarmu. Ibumu sudah setuju. Kau tak bisa mengelak lagi,” ucapnya dengan senyum kemenangan. Aku diam membisu. Apa yang bisa kuperbuat sekarang. Ibu benar-benar menjualku dengan harta. Aku duduk lemas di sofa. Memandangi foto sepasang kekasih yang begitu mesra.

            “Tuhan tak adil. Setelah Ayah kau ambil dariku, kini orang yang akan membangun istana dalam puriku. Apa aku begitu hina hingga tak pantas mendapatkan kebahagian di dunia ini?” Aku terus menggerutu dengan perasaanku sendiri. Bajingan itu kini bisa tersenyum lepas melihat kemenangan di depan matanya.

*

            Kecelakaan itu harus membuatku kehilangan dirimu selamanya. Nyawamu tidak dapat tertolong lagi. Sedangkan aku hanya mengalami luka ringan saja. Kepergianmu bukan saja membuatku seperti kejatuhan reruntuhan langit, tapi hidupku kehilangan separuh nyawa.

            Kini, birunya langit tidak seindah dulu. Langit melukis mendung yang teramat. Hingga aku sendiri tidak mampu untuk menghapusnya.

Tuhan, haruskah cintaku berakhir tragis?! Kenapa Kau ambil orang yang kusayang saat hari bahagia itu akan datang menghampiriku? Aku lelah terus menerus disakiti oleh cinta. Tolong kembalikan dia padaku, rintihku pilu.

*

Penantian itu tiba.

            “Maafkan, Ibu. Ternyata ucapanmu benar adanya. Dia tak sebaik penampilannya. Maafkan Ibu yang sudah dibutakan oleh keadaan,” Ibu menangis memelukku dengan kasih bukan dengan kebencian yang selama ini kurasakan. Kubalas pelukannya dengan senyum bahagia. Dadaku tak sesak lagi saat memluknya. Kini cinta yang kupertanyakan kepada-Nya telah hadir. Cinta itu ada dipelukanku.

            “Syukurlah, Ibu sudah mengetahuinya. Ini alasanku kenapa selalu mengabaikan semua perasaannya padaku, Bu. Aku harap Ibu tak lagi memaksaku untuk menikah denganya. Apapun alasannya,” pintaku polos. Ibu mencium keningku. Ia menganggukkan kepala.

            Sebelum waktu yang dijanjikan tiba. Rudi, si pecundang tertangkap basah sedang mengedar narkoba dan sejenisnya. Akhirnya ia harus mempertanggungjawabkan semua kelakuannya dalam balik jeruji besi.

            Lega sudah semua perasaanku yang dulu terhimpit palu yang siap menghantamku. Kupandangin lagi jembatan itu, ya jembatan yang menghubungkan cintaku denganmu.

            “Rangga, perasaan ini tak akan pernah berubah. Aku percaya di surga kau membangun istana kita yang tertunda. Rangga, rasa ini masih seperti dulu dan selamanya akan seperti dulu. Karena separuh aku, dirimu.”

* END *


-